Tanggal Praktikum                  : 22 November 2011

Dosen Pembimbing                 :

Kelompok Praktikum              : D2

 

 

 

PENCERNAAN

 

Anggota kelompok :

 

  1. Yusuf Jafar Rizali                   D14100064
  2. Laura Casalla                          D14100097
  3. Mujahid Alfikri                       D14100098
  4. Ishfi                                         D14100101
  5. Kartini Tambunan                   D14100102

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

 

PENCERNAAN

 

Gerakan Usus dan Kerutan Segmen Usus di Luar Tubuh

Tujuan

  1. Mempelajari gerakan usus in situ pada kelinci.
  2. Mempelajari segmen usus yang diisolasi, dan mengamati:

–          Kontraksi ritmis usus yang normal.

–          Pengaruh suhu terhadap frekuensi dan kekuatan kontraksi.

–          Pengaruh zat-zat kimia/obat-obatan yang otonom.

 

Dasar Teori

Usus halus merupakan bagian terpenting dari saluran pencernaan. Di dalamnya berlangsung tahap-tahap akhir pencernaan bahan makanan yang kemudian disiapkan untuk diabsorpsi.

Dengan demikian, gerakan usus halus sangat erat kaitannya dengan fungsi absorbsi di dalam usus. Gerakan-gerakan usus tersebut ialah gerakan segmentasi, gerakan pendulum dan gerakan peristaltik.

Gerakan segmentasi diduga sebagai gerakan usus yang paling penting pada usus halus dan berfungsi memotong-motong massa makanan yang terletak memanjang menjadi potongan-potongan lonjong dengan cara kontraksi pada interval-interval yang teratur sepanjang massa makanan di dalam usus. Sesaat kemudian masing-masing potongan ini dipotong-potong lagi, sedangkan potongan-potongan yang berdekatan akan saling mendekat dan membentuk potongan baru. Potongan ini selanjutnya dipotong-potong lagi dan prosesnya berulang kembali.

Gerakan bandul lonceng (pendulum) berperan dalam pencampuran lokal isi usus dengan getah-getah pencernaan. Pada gerakan ini, terjadi kontraksi segmental pada interval-interval tertentu sepanjang ujung halus. Oleh karena itu makanan seolah-olah diremas-remas secara bergilir pada tempat-tempat tertentu.

Gerakan peristaltik merupakan mekanisme utama dari gerakan maju pada usus yang lunak. Pada gerakan ini terbentuk cincin kontriksi yang mendorong isi usus yang sedang relaksasi. Gelombang kontriksi ini bergerak sepanjang usus sebagai gelombang peristaltik yang membawa ingesta ke arah belakang saluran pencernaan.

Aktivitas motorik dari saluran pencernaan ada di bawah pengaruh susunan saraf otonom (SSO) melalui serabut-serabut simpatis dan parasimpatis yang memasuki lapisan otot dan melalui sistem saraf intrinsik yang terdiri dari pleksus-pleksus saraf. Ada dua macam pleksus utama, yaitu:

  1. Pleksus mienterik (Aurbach) yang terletak diantara lapisan otot longitudinal dan sirkuler.
  2. Pleksus submukosa (Meisner) yang terletak diantara lapisan otot sirkuler dan muskularis mukossa.

Rangsangan pada saraf-saraf simpatis atau parasimpatis dapat merubah kerutan usus yang normal. Demikian pula pemberian zat-zat otonom lainnya.

 

Alat dan Bahan

–          Kelinci, alat-alat diseksi

–          Larutan Tyrode 37o C

–          Cawan petri besar ukuran diameter 30 cm

–          Alat suntik (syringe) 20 cc, kimograf, statif, klem-klem, tromel

–          Alat pencatat kerutan usus, alat pencatat rangsangan

–          Gelas beker 300 ml, gelas beker 800 ml, Aerator

–          Benang, air panas 40o C

–          Adrenalin 1:10.000, asetil kolin 1:100.000

 

Tata Kerja

  1. Seekor kelinci dianestesi dengan nembuntal dan disiapkan untuk insisi pada abdomennya.
  2. Abdomen dibuka dan diamati, lalu dicatat berikut ini:

–          gerakan segmentasi

–          gerakan pendulum

–          gerakan peristaltic

  1. Usus kelinci tersebut dikeluarkan dan dimasukan ke dalam cawan petri besar yang berisikan larutan Tyrode 37o C.
  2. Isi usus disemprot keluar sampai bersih secara perlahan-lahan menggunakan syring 20 cc yang berisikan larutan Tyrode 37o C.
  3. Potongan usus halus diambil sepanjang 3-4 cm.
  4. Kedua ujung potongan usus tersebut diikat dengan benang.
  5. Ujung bawah usus tersebut diikat pada ujung tabung gelas aerator, sedangkan ujung atau usus dihubungkan dengan alat pencatat kontraksi.
  6. Pengikatan no. 6 dilakukan dalam gelas beker yang berisikan larutan Tyrode 37o C.
  7. Gelas beker yang lebih besar (800 ml) diisi dengan air hangat 40o C, dan gelas beker no. 8 dimasukan ke dalam gelas beker yang berisikan air ini.
  8. Kimograf disiapkan untuk putaran yang agak lambat (15 cm/1 menit) dan diatur agar alat pencatat kontraksi usus dan alat pencatat rangsangan menyentuh kertas yang melekat pada tromol kimograf.
  9. Suhu larutan dijaga agar tetap 37o C dan O2 dimasukan melalui aerator.
  10. Kerutan usus yang normal dibuat catatannya sepanjang 5 cm.
  11. Dibuat pencatatan kontraksi terakhir ritmik usus yang normal sepanjang 3 cm, setelah itu dihentikan, dan suhu larutan Tyrode (tempat usus berada) diturunkan menjadi 33o C dengan cara air 40o C dalam gelas beker luar ditukar dengan air dingin. Dibuat lagi pencatatan sepanjang 5 cm selama usus berada di dalam larutan Tyrode yang bersuhu 33o C.
  12. Suhu larutan Tyrode dikembalikan menjadi 37o C dan dibuat lagi pencatatan kontraksi usus yang normal sepanjang 5 cm. Asetilkolin 1:100.000 diteteskan sebanyak 5-6 tetes dan dibuat lagi pencatatan effeknya sepanjang 5 cm. Usus dibilas sebanyak 2 kali menggunakan larutan Tyrode yang baru (bersih).
  13. Dibuat pencatatan kontraksi usus yang normal sepanjang 3 cm. Adrenalin 1:10.000 diteteskan sebanyak 5-6 tetes ke dalam larutan Tyrode dan dibuat pencatatan effeknya sepanjang 5 cm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL PERCOBAAN

GERAKAN DAN KERUTAN USUS

 

GERAKAN USUS:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KERUTAN USUS:

   

FREKUENSI/MENIT

Tinggi gelombang (mm)

1.

2.

3.

4.

5.

NORMAL

SUHU 30o C

SUHU 40o C

ASETYL KHOLIN

ADRENALIN