Tanggal Praktikum                  : 11 Oktober 2011

Dosen Pembimbing                 :

Kelompok Praktikum              : D2

 

 

 

KARDIOVASKULER

 

Anggota kelompok :

 

  1. Yusuf Jafar Rizali                   D14100064
  2. Laura Casalla                          D14100097
  3. Mujahid Alfikri                       D14100098
  4. Ishfi                                         D14100101
  5. Kartini Tambunan                   D14100102

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

 

JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH

 

  1. 1.      JANTUNG KATAK

Tujuan

            Mempelajari beberapa sifat faali dari otot jantung: morfologi dan denyut jantung, pengaruh suhu dan zat kimia terhadap denyut jantung, otomasi jantung, asal denyut jantung.

Dasar teori

            Perbedaan otot rangka dengan otot polos, jaringan otot jantung terdiri atas sinsisium serabut-serabut otot yang satu dengan yang lain tidak terpisahkan. Setiap impuls yang timbul di jantung akan disebar ke seluruh otot jantung, dengan demikian kontraksinya akan selalu bersifat “all or none”. Di samping itu, kuat kontraksinya otot sangat ditentukan oleh panjang awal dari serabut-serabutnya (hukum Starling).

Satu sifat utama otot jantung adalah kemampuannya untuk membangkitkan sendiri impuls irama denyut jantung (otomasi jantung). Jantung yang dikeluarkan dari tubuh mampu tetap berkontraksi ritmis. Pada amfibia dan reptilia, irama ditentukan oleh sinus venosus. Aurikel iramanya sangat kurang cepat dan ventrikelnya paling rendah tingkat otomasinya. Otot jantung peka terhadap perubahan-perubahan metabolik, kimia dan suhu. Kenaikan suhu meningkatkan metabolisme dan frekuensi denyut jantung.

Bahan dan alat                                                   

–          Katak, papan gabus, es

–          Cairan Ringer, larutan adrenalin, kimograf, beban, alat pencatat jantung

–          Induktorium, elektroda perangsang

–          Termometer, benang

Tata kerja

Seekor katak diambil lalu dirusak otak dan sumsum tulang belakangnya. Katak diikat pada papan gabus dengan bagian ventral ke atas. Dibuat sayatan pada garis median di perut dan di dada. Episternum diangkat dan dipotong menggunakan pinset melalui tulang rawan sternum. Sternum dibuang dengan cara digunting memanjang di samping sternum dan melalui bagian-bagian pectoral di kedua sisi. Setelah jantung terlihat, epikardium diangkat menggunakan pinset dan pericardium dibuka hingga jantung keluar dari kantong.

  1. Morfologi dan denyut jantung

–          Jantung digambar dan disebutkan bagian-bagiannya mulai dari belakang dengan cara membalikannya ke atas menggunakan “finder” atau pinset.

–          Denyut jantung diamati untuk mengetahui bagian-bagian yang berkontraksi serempak atau bergantian. Kontraksi otot jantung disebut “sistole” yang ditandai oleh warna pucat. Sedangkan relaksasi otot jantung disebut “diastole” yang ditandai oleh warna merah kecoklatan.

  1. Pengaruh suhu dan zat kimia terhadap denyut jantung

–          Jantung dibasahi menggunakan cairan Ringer (suhu kamar). Lalu frekuensi denyut jantung dihitung (banyaknya denyut per menit).

–          Cairan Ringer didinginkan menggunakan es hingga suhunya mencapai 4oC-10oC. Sebagian cairan Ringer dituangkan ke dalam rongga di sekitar jantung hingga suhu cairan di sekitar jantung menjadi 15oC, ditunggu sebentar lalu dihitung frekuensi denyutnya.

–          Suhu cairan Ringer diganti menjadi suhu kamar menggunakan sebuah pipet hisap hingga suhu di sekitar jantung menjadi seperti semula dan dicatat frekuensi denyutnya.

–          Suhu cairan Ringer diganti menjadi 40oC-50oC. Lalu dilakukan cara yang sama dan dicatat frekuensi denyutnya. Setelah itu suhu di sekitar jantung dikembalikan ke suhu normal dengan cara mengganti cairan Ringer panas menjadi cairan Ringer yang bersuhu kamar.

–          Frekuensi denyut jantungnya dihitung. Larutan asetilkolin 1:1000 diteteskan pada jantung menggunakan sebuah pipet sebanyak 2-3 tetes. Ditunggu sebentar dan dihitung frekuensi denyutnya. Lalu asetilkolin dibuang dengan cara membilas jantung dengan cairan Ringer bersuhu kamar menggunakan kapas atau pipet sampai bersih.

–          Dihitung frekuensi denyutnya. Kemudian larutan adrenalin 1:1000 diteteskan pada jantung sebanyak 2-3 tetes dan dihitung frekuensinya. Larutan adrenalin dibuang menggunakan kapas. Lalu cairan Ringer di sekitar jantung diganti 2-3 kali. Setelah itu dihitung denyut jantungnya.

  1. Otomasi jantung

–          Disediakan cawan petri yang berisi cairan Ringer bersuhu kamar.

–          Ujung ventrikel jantung (apeks) dijepit dan diangkat ke atas.

–          Jantung dibebaskan dari tenun sekitarnya, kemudian pembuluh-pembuluh darah yang berhubungan dengan jantung dipotong sejauh mungkin dari jantung.

–          Jantung yang telah bebas diangkat dan diletakan dalam cawan petri yang berisi cairan ringer. Jantung tetap berdenyut walaupun dibebaskan dari susunan saraf pusat, susunan saraf otonom dan tidak dialiri darah. Setelah itu sifat otomasi urat daging jantung diamati dan dihitung frekuensinya.

 

Lembar kerja

  1. gambar jantung:

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. hasil percobaan:

Nomor

Macam percobaan

Frekuensi denyut jantung

(banyaknya denyut/menit)

Sebelum

Sesudah

1

Suhu dingin    

2

Suhu panas    

3

Asetilkholin    

4

Adrenalin    

5

Otomasi    

 

  1. 2.      PEREDARAN DARAH DALAM PEMBULUH DARAH

Tujuan

  1. Membedakan gambaran anatomi dari arteriole, kapiler dan venule.
  2. Mempelajari sifat aliran darah dalam pembuluh-pembuluh tersebut.

Dasar teori

Sistem kardiovaskuler terdiri atas dua pompa serta saluran pembuluh darah untuk menyampaikan darah ke jaringan tubuh. Sesuai dengan fungsinya, pembuluh-pembuluh darah terdiri atas aorta, arteria, arteriole, kapiler, venule, dan vena. Akibat kontraksi jantung, sifat aliran darah dalam pembuluh darah adalah terputus-putus. Kecepatan aliran darah juga terkait dengan diameter dari pembuluh darah serta luas dari jaringan masing-masing pembuluh darah.

Bahan dan alat

–          Kodok atau katak

–          Papan fiksasi yang berlubang

–          Mikroskop

–          Jarum pentul

–          Sonde

–          Larutan asam cuka glacial

Tata kerja

Otak katak dirusak, selaput renangnya direntangkan di atas lubang pada papan fiksasi dan difiksir dengan jarum pentul. Setelah itu ditempatkan di bawah mikroskop dan diamati peredaran darah dalam arteri, arteriole, kapiler, venule. dan vena.

Peredaran darah diperhatikan dengan baik, sedikit larutan asam cuka diteteskan pada tempat yang terlihat di bawah mikroskop. Pipet dijaga agar tidak menyentuh selaput renang. Diperhatikan proses peradangan termasuk statis dan mungkin pula diapedesis. Selain selaput renang, mesenterium katak juga dapat dipakai dalam latihan ini.