Tanggal Praktikum                  : 8 November 2011

Dosen Pembimbing                 :

Kelompok Praktikum              : D2

 

 

 

DARAH III

 

Anggota kelompok :

 

  1. Yusuf Jafar Rizali                   D14100064
  2. Laura Casalla                          D14100097
  3. Mujahid Alfikri                       D14100098
  4. Ishfi                                         D14100101
  5. Kartini Tambunan                   D14100102

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

 

SEDIAAN APUS DARAH TEPI

DAN DIFERENSIASI BDP

 

Tujuan

  1. Mempelajari membuat sediaan apus darah.
  2. Mengamati berbagai macam bentuk butir-butir darah yang terdapat pada preparat darah perifer.
  3. Menghitung % jenis-jenis BDP (leukosit) pada sediaan ulas darah perifer.

 

Prinsip

Sediaan ulas darah diwarnai dengan zat warna campuran asam dan basa (Giemsa, Wright, Hematoksilin, eosin dan sebagainya) akan menyebabkan komponen-komponen asam dari sel darah berwarna biru atau biru keungu-unguan, dan komponen basa dari sel berwarna merah. Dengan menggunakan mikroskop, berbagai bentuk butir-butir darah dapat diamati dan dipelajari, juga % jenis-jenis butir darah putih dapat dihitung.

 

Bahan dan alat

–          Gelas objek 2 buah

–          Bak pewarna, pipet tetes

–          Mikroskop

–          Zat warna Giemsa atau Wright

–          Metil alcohol (jika memakai zat warna Giemsa)

–          Minyak imersi, xylol

–          Alkohol 70%, kapas, jarum tusuk

–          Buffer fosfat pH 6.4-6.7

 

Tata Kerja

  1. A.    TEKHNIK MEMBUAT SEDIAAN APUS DARAH

–          Dua buah gelas objek disiapkan dalam keadaan bersih.

–          Setelah darah ditempatka 2 cm dari ujung sebuah gelas objek (sebelah kanan).

–          Bagian ujung lain gelas objek tersebut pada kedua sudutnya (sebelah kiri) dipegang dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri (atau gelas objek diletakkan di atas meja yang rata). Gelas objek lainnya dipegang dengan tangan kanan (pinggir-pinggir gelas objek dipegang oleh ibu jari dan keempat jari tangan kanan) dan bagian ujung depan gelas objek ini diletakan pada gelas objek yang tadi (pertama), sehingga membentuk sudut 30o di depan setetes darah tadi.

–          Gelas objek yang ada di tangan kanan digerakan ke belakang (sudut tetap 30o) sampai menyinggung tetesan darah tadi, sehingga darah menyebar sepanjang sudut antara kedua gelas objek.

–          Setelah darah menyebar, dengan hati-hati dan tanpa mengangkat gelas objek (sudut tetap 30o), gelas objek yang ada di tangan kanan segera didorong ke depan, maka terbentuk sediaan apus yang tipis. Ketebalan sediaan apus ditentukan oleh besarnya sudut antara kedua gelas objek. Makin besar sudut, makin tebal sediaan apusnya.

–          Sediaan apus dikeringkan, kemudian diwarnai.

 

  1. B.     TEKHNIK MEWARNAI SEDIAAN APUS DARAH

Pewarnaan dengan zat warna Giemsa:

–          Sediaan apus darah yang sudah dikeringkan di udara, dimasukan ke dalam metil alcohol (cairan fiksasi) selama 5 menit.

–          Setelah itu diangkat dan dikeringkan, kemudian dimasukan ke dalam larutan zat warna Giemsa, lalu dibiarkan selama 30 menit.

–          Preparat diangkat, dan kelebihan zat warna dicuci menggunakan air keran yang mengalir.

–          Dikeringkan di udara atau menggunakan kertas isap (preparat diletakan di antara dua lembar kertas isap dan perlahan-lahan ditekan-tekan.

Pewarnaan dengan zat warna Wright:

–          Sediaan apus darah (yang sudah dikeringkan) diletakan horizontal pada bak pewarna.

–          Seluruh permukaan apusan darah ditetesi dengan larutan zat warna Wright sebanyak 10-15 tetes, dan dibiarkan selama 1 menit.

–          Larutan buffer fosfat ditambahkan pada seluruh permukaan preparat sebanyak zat warna yang dipakai tadi (tanpa membuang zat warna). Larutan buffer diusahakan bercampur dengan larutan zat warna.

–          Dibiarkan selama 4 menit sampai terbentuk lapisan hijau metalik (mengkilat) pada permukaan preparat.

–          Cairan dibuang, dan preparat dicuci  dengan aquadest atau di bawah air keran yang mengalir.

–          Dikeringkan di udara atau menggunakan kertas isap.

–          Diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat cukup baik atau tidaknya pewarnaan. Bila tidak cukup, dapat diwarnai lagi.

 

  1. C.    CARA MEMERIKSA SEDIAAN APUS, IDENTIFIKASI MACAM BUTIR-BUTIR DARAH DAN HITUNG % JENIS-JENIS LEUKOSIT

–          Mikroskop disiapkan dengan obyektif 100x dan okuler 10x.

–          Seluruh permukaan preparat diperiksa, preparat yang baik akan menunjukan warna kontras merah, biru keunguan, dan biru tua, misalnya:

  1. Eritrosit berwarna merah.
  2. Inti leukosit berwarna ungu tua atau biru tua.
  3. Granula di dalam sitoplasma granulosit ada yang berwarna merah, biru atau netral (antara merah dan biru)/.
  4. Trombosit berwarna kebiru-biruan.

Pengamatan butir-butir darah pada sediaan apus:

–          Preparat ditetesi dengan minyak emersi (obj: 100x; ok: 10x).

–          ERITROSIT

  1. Bentuk      : sama atau tidak
  2. Besar         : sama atau tidak
  3. Warna        : sama atau tidak

–          RETIKULOSIT (kadang-kadang)

–          TROMBOSIT

–          LEUKOSIT:

  1. GRANULOSIT:
    1. EOSINOFIL   : granula merah, besar-besar
    2. BASOFIL       : granula biru tua, besar-besar
    3. NEUTROFIL : granula netral, halus

Bentuk muda  : inti berbentuk batang

Bentuk tua      : inti berbentuk segmen

  1. AGRANULOSIT:

–          LIMFOSIT     : inti bulat, biru tua, sitoplasma sedikit, biru muda

–          MONOSIT      : inti berlekuk, biru tua, sitoplasma banyak, biru muda

 

Lembaran kerja:

Hasil pengamatan butir-butir darah yang terdapat pada preparat (nama dan gambaran/deskripsi):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. D.    CARA MENGHITUNG % JENIS-JENIS BDP (DIFERENTIAL LEUCOYTE COUNT)

–          Setelah bentuk jenis-jenis BDP diamati/dipelajari, % masing-masing jenis pada preparat ulas darah tersebut dihitung.

–          Setelah selesai bekerja dan sebelum mikroskop dikembalikan/disimpan, mikroskop dibersihkan menggunakan lap yang bersih dan halus. Bila dalam praktikum digunakan minyak imersi, maka mikroskop dibersihkan menggunakan xylol.

 

Lembaran kerja

Hasil:

% jenis-jenis BDP                   :

Neutrofil: berinti batang         :           =          %

Neutrofil: berinti segmen        :           =          %

Eosinofil                                  :           =          %

Basofil                                     :           =          %

Limfosit besar                         :           =          %

Limfosit kecil                          :           =          %

Monosit                                   :           =          %

Jumlah butir                            =          %

 

Pertanyaan

  1. Sebutkan perbedaan bentuk BDM antara manusia, kambing, katak, dan ikan!
  2. Terdapat perbedaan bentuk yang nyata di antara jenis-jenis BDP pada kelinci dan ayam. Jelaskan perbedaan tersebut!
  3. Dalam keadaan apa % eosinofil di dalam darah meningkat?

 

  1. E.     MENGHITUNG BDM/BDP UNGGAS

–          Pipet yang digunakan adalah pipet eritrosit

–          Larutan: BCB 0.3%

–          Daerah yang dihitung untuk BDM = 5 daerah R

–          BDP daerah yang dihitung = 4 daerah W ditambah 1 kotak besar di tengah