Dosen Pembimbing : Widya Hermana

Kelompok Praktikum: Kelompok 5 / G1

 

 

 

PENGUKURAN DAYA SUKA PADA TERNAK RUMINANSIA

 

 

Anggota Kelompok:

Laras Shafa Fauziah                             (D14100008)

Yusuf Jafar Rizali                                 (D14100064)

                                                              (D14100)

Laras Winda                                         (D14100114)

 

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

PENDAHULUAN

 

Latar belakang

Pengetahuan daya suka ternak sangat dibutuhkan dalam mengkaji pola pemberian ransum makanan pada makhluk hidup termasuk domba, karena pakan memiliki peran yang sangat penting baik dalam produksi maupun pertumbuhannya. Semakin tinggi palatabilitas pakan maka akan semakin banyak juga pakan yang dikonsumsi, dan semakin tinggi kesempatan untuk meningkatkan produksinya.

Palatabilitas adalah derajat kesukaan pada makanan tertentu yang terpilih dan dimakan. Pengertian palatabilitas berbeda dengan konsumsi. Palatabilitas melibatkan indera penciuman, perabaan dan perasa. Semakin tinggi palatabilitas pakan maka akan semakin banyak juga pakan yang dikonsumsi, dan semakin tinggi kesempatan untuk meningkatkan produksinya.

Kebanyakan hewan memiliki preferensi menyukai makanan tertentu, terutama jika memiliki kesempatan memilih. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat palatabilitas pada domba, biasanya peternak memberikan pakan berupa rumput yang telah dicampuri dengan berbagai macam larutan, seperti larutan garam, cuka, dan gula agar domba bisa memilih rasa mana yang paling disukai. Dari pencampuran tersebut maka peternak dapat mengetahui jenis rasa yang paling disukai oleh domba dengan cara membandingkan banyak rumput yang dihabiskannya.

 

 

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan ternak ruminansia (domba) terhadap rasa asam, manis, dan asin.

 

 


 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Pakan Ternak Domba

Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung jenis ternak, umur, fase, (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembapan, nisbi udara) serta berat badannya. Jadi setiap ekor ternak berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).

Pakan yang di berikan jangan sekedar di maksudkan untuk mengatasi lapar atau sebagai pengisi perut saja melainkan harus benar-benar bermanfaat untuk kebutuhan hidup, membentuk sel-sel baru, mengganti sel-sel yang rusak dan untuk produksi (Widayati dan Widalestari, 1996).

Pakan adalah semua bahan pakan yang bisa di berikan dan bermanfaat bagi ternak. Pakan yang di berikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang di perlukan oleh tubuh ternak dalam hidupnya seperti air, karbohidrat, lemak, protein, mineral dan air (Parakkasi, 1995).

Kebutuhan ternak akan zat makanan terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok pengertiannya sederhana yaitu untuk mempertahankan hidup. Ternak yang memperoleh makanan hanya sekedar cukup untuk memenuhi hidup pokok, bobot badan ternak tersebut tidak akan naik dan turun. Tetapi jika ternak tersebut memperoleh lebih dari kebutuhan hidup pokoknya maka sebagian dari kelebihan makanan itu akan dapat dirubah menjadi bentuk produksi misalnya air susu, pertumbuhan dan reproduksi ini disebut kebutuhan produksi (Tillman, et al., 1984).

 

Konsumsi Air Minum

Air adalah zat makanan yang penting, ternak akan lebih menderita dengan kekurangan air daripada kekurangan makanan (Tillman et al., 1991). Air memiliki dua fungsi dasar yaitu sebaga komponen utama dalam metabolisme dan sebagai zat yang  mengontrol temperature tubuh (Church dan Pond, 1988). Parakkasi (1999) menyatakan bahwa kebutuhan air minum dipengaruhi oleh konsumsi BK ransum, jenis bahan  makanan, kelembaban, angin, dan temperature. Davendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kebutuhan air dipengaruhi oleh faktor lingkungan, jumlah BK yang dikonsumsi, keadaan makanan, kondisi fisiologis, temperatur air minum, temperature lingkungan, kekerapan minum dan genotip ternak.

Tillman et al. (1991) menyatakan bahwa kebutuhan air minum domba yang sedang tumbuh pada suhu > 200C dalah 3 liter/kg BK terkonsumsi. Menurut Davendra dan Church (1971), konsunmsi air minum dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain tingkat konsumsi ransum, tingkat produksi hewan, tingkat pertumbuhan dan bobot badan hewan.

 

Palatabilitas

Menurut Kartadisastra (1997), palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.

Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi (Kartadisastra, 1997).

 

MATERI DAN METODE

Materi

Alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah 12 ekor domba dalam kandang individu dengan sekat, timbangan, rumput, gula, garam, cuka, air, dan botol.

Metode

Sebanyak 12 ekor domba yang telah ada di kandang individu dengan sekat, secara bersamaan diberi pakan. Pakan ditimbang terlebih dahulu, bobot pakan sebanyak 500 gram. Perlakuan pertama domba hanya diberi pakan rumput saja (sebagai kontrol). Perlakuan kedua adalah rasa asam, cuka 50 ml ditambahkan pada air, hingga ukuran keduanya adalah 200 ml, dikocok dan kemudian dicampurkan dengan rumput yang telah ditimbang tadi. Perlakuan ketiga adalah rasa manis, air sebanyak 200 ml ditambahkan dengan gula sebanyak 50 gram, dikocok dan dicampurkan dengan rumput 500 gram. Perlakuan keempat adalah asin, garam sebanyak 50 gr dicampurkan pada air hingga mencapai 200 ml, dikocok dan dicampurkan dengan rumput 500 gram. Setelah itu pakan diberi pada domba, 4 ekor domba diberi pakan rumput saja, 4 ekor domba kedua diberi pakan rumput dengan rasa asam, 2 ekor domba ketiga diberi rumput dengan rasa manis, dan 2 ekor domba lagi dengan rasa asin. Semuanya diberi secara serentak selama 30 menit, dan hasilnya dicatat.

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil pengamatan dari masing-masing pemberian perlakuan percobaan daya suka domba dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

1.1 Tabel hasil konsumsi pakan

Perlakuan

kel. 1

kel.2

kel.3

kel.4

kel.5

kel.6

total

Rata-rata

rumput normal

300

300

150

250

1000

166,66667

rumput+cuka

100

200

200

50

550

91,666667

rumput+gula

200

150

350

58,333333

rumput+garam

100

100

200

33,333333

 

 


 

Pembahasan

 

Pakan adalah semua bahan pakan yang bisa di berikan dan bermanfaat bagi ternak. Pakan yang di berikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang di perlukan oleh tubuh ternak dalam hidupnya seperti air, karbohidrat, lemak, protein, mineral dan air (Parakkasi, 1995). Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung jenis ternak, umur, fase, (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembapan, nisbi udara) serta berat badannya. Jadi setiap ekor ternak berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).

Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong atau dimakan langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak atau pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

Aktivitas makan ternak banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu aktivitas makan. Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya. Domba jantan atau domba betina yang sedang bunting membutuhkan jumlah konsumsi yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam tubuhnya.

Pada praktikum pengukuran daya suka ternak terhadap beberapa jenis pakan diukur dengan menguji palatabilitas dari domba yang  dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan domba terhadap pakan hijauan yang diberikan dengan dipengaruhi oleh rasa. Setelah pemberian pakan dengan beberapa perlakuan, diperoleh data hasil konsumsi pakan yang menunjukkan ternak domba lebih banyak mengkonsumsi pakan rumput dengan perlakuan normal, kemudian jika dilihat dari rata-rata data yang diperoleh memperlihatkan daya suka terhadap rasa asam lebih besar dari pada rasa manis dan asin. Hasil pengamatan ini mengalami sedikit penyimpangan. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/asam. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi. (Kartadisastra, 1997).

Penyimpangan data hasil pengamatan tersebut tersebut kemungkinan disebabkan dan kesalahan praktikan dalam melaksanakan praktikum. Kesalahan tersebut kemungkinan dari perubahan jam untuk pemberian pakan. Jam makan ternak berhubungan dengan kebiasaan dan aktivitas metabolisme dalam tubuh ternak. Kemudian dapat juga dipengaruhi oleh kedatangan banyak mahasiswa yang cenderung akan membuat ternak merasa stress dan akan mempengaruhi aktivitas makan ternak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa palatabilitas ternak ruminansia terhadap rumput normal sangat tinggi dibandingkan dengan rumput yang sudah diberi rasa. Namun perbandingan dalam hal rasa, ternak ruminansia lebih menyukai rasa asam, selanjutnnya adalah rasa manis, dan yang terakhir adalah rasa asin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Church,.  D. C. and W. G. Pond. 1998. Basic Animal Nutrition and Feeding. 3rd                     Edition. John Willey and Sons. New York. p : 295-927.

Davendra, C. dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit               ITB, Bandung. hlm : 12-35.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas      Indonesia Press, Jakarta. hlm : 2.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S.                            Lebdosoekono. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-V. Gadjah             Mada University Press, Yogyakarta. hlm : 249-267.