Dosen Pembimbing : Widya Hermana

Kelompok Praktikum: Kelompok 5 / G1

 

 

CAFETARIA FEEDING PADA UNGGAS

Anggota Kelompok:

Laras Shafa Fauziah                             (D14100008)

Yusuf Jafar Rizali                                 (D14100064)

                                                              (D14100)

Laras Winda                                         (D14100114)

 

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Ilmu nutrisi adalah proses untuk melengkapi sel-sel dalam tubuh hewan dengan bagian yang berasal dari luar yang merupakan persenyawaan-persenyawan kimia yang diperlukan untuk fungsi optimum dari banyak reaksi-reaksi kimia dalam proses metabolisme, termasuk proses pertumbuhan, hidup pokok, kerja produksi, dan reproduksi. Ternak unggas akan berusaha memenuhi kebutuhan tubuhnya akan energi, protein, mineral, dan vitamin dari makanannya. Apabila disediakan bahan-bahan makanan secara terpisah (cafetaria), unggas akan memakan bahan makanan tersebut sesuai kebutuhannya. Bentuk bahan makanan (tepung/mash atau butiran/crumble), juga mempengaruhi jumlah bahan makanan yang dimakan. Selain itu, jumlah makanan yang dikonsumsi unggas dipengaruhi oleh palatabilitas, sehingga perlu diketahui seberapa besar palatabilitas pada ternak unggas, khususnya ayam broiler. Dengan mengetahui jumlah pakan yang dibutuhkan, maka diharapkan mampu memformulasi ransum secara efisien.

 

Tujuan

            Praktukum kali ini bertujuan untuk menghitung konsumsi bahan makanan yang diberikan secara terpisah serta menghitung konsumsi energi, protein dan kalsium berdasarkan bahan makanan yang dikonsumsi.

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Ayam

            Ayam adalah binatang yang termasuk bangsa Gallus. Secara lengkap, sistematika zoology (ilmu yang mempelajari binatang) dari ayam adalah sebagai berikut:

Kingdom         (kerajaan)        : Animal

Phylum            (pokok)            : Chordata

Class                (tingkatan)       : Aves

Ordo                (susunan)         : Galliformes

Famili              (keluarga)        : Phasianidae

Genus              (bangsa)           : Gallus

Species            (jenis)              : Gallus sp

Ayam piaraan yang ada saat ini, konon dulu berasal dari ayam liar di sekitar India Tengah dan Selatan, Himalaya, Terai Assam, Myanmar (Birma), Thailand, Srilangka dan hampir semua daerah di Asia Tenggara. Dalam sejarah dunia perunggasan, ayam liar dikenal dalam empat species, yaitu Gallus Gallus, Gallus Lafayettii, Gallus Sonneratii,dan Gallus varius (Abdul, 2006).

 

Jagung

Jagung merupakan pakan yang sangat baik untuk ternak. Jagung sangat disukai ternak dan pemakaiannya dalam ransum tidak ada pembatasan, kecuali untuk ternak yang akan dipakai sebagai bibit. Pemakaian yang berlebihan untuk ternak ini dapat menyebabakan kelebihan lemak. Jagung tidak mempunyai anti nutrisi dan sifat pencahar. Walaupun demikian, pemakaian dalam ransum ternak terutama untuk bibit perlu dibatasi karena penggunaan jagung yang tinggi dapat mengakibatkan sulitnya ternak untuk berproduksi. Disamping itu penggunaannya pada ternak muda yang akan dipakai bibit perlu dibatasi karena selain tidak ekonomis, juga disebabkan penggunaan yang terlampau tinggi dapat menyulitkan ternak tersebut untuk berproduksi.

Secara kualitatif kualitas butiran jagung dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density butiran jagung yang baik adalah 626.6 g/liter, sedangkan untuk jagung giling yang baik berkisar antara 701.8 – 722.9 g/liter. Semakin banyak jagung yang mengapung, berarti semakin banyak jagung yang rusak. Selain itu, uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas jagung yang baik. Kualitas jagung secara kuantitatif dapat dilakukan di Laboratorium dengan menggunakan metode proksimat. Minimum data kadar bahan kering, protein kasar dan serat kasar harus diketahui setiap kali pengiriman jagung. Jagung merupakan butiran yang mempunyai total nutrien tercerna (TDN) dan net energi (NE) yang tinggi. Kandungan TDN yang tinggi (81.9%) adalah karena : (1) jagung sangat kaya akan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) yang hampir semuanya pati, (2) jagung mengandung lemak yang tinggi dibandingkan semua butiran kecuali oat, (3) jagung mengandung sangat rendah serat kasar, oleh karena itu mudah dicerna. Kandungan protein jagung rendah dan defisiensi asam amino lisin. Dari butiran yang ada, hanya jagung kuning yang mengandung karoten. Kandungan karoten jagung akanmenurun dan atau hilang selama penyimpanan (Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan).

 

Dedak Padi

Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahan. Sebanyak 14.44% dedak kasar, 26.99% dedak halus, 3% bekatul dan 1 -17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi cukup disenangi ternak. Pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran konsentrat. Walaupun tidak mengandung zat antinutrisi, pembatasan dilakukan karena pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dapat menyebabkan susahnya pengosongan saluran pencernaan karena sifat pencahar pada dedak. Pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dalam campuran konsentrat dapat memungkinkan ransum tersebut mudah mengalami ketengikan selama penyimpanan. Secara kualitatif, kualitas dedak padi dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density dedak padi yang baik adalah 337.2 – 350.7 g/l. Semakin banyak dedak padi yang mengapung, semakin buruk kualitas dedak padi tersebut. Selain itu, uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, bau dan uji sekam (flouroglusinol) dapat dipakai untuk mengetahui kualitas dedak padi yang baik. Bau tengik merupakan indikasi yang baik untuk dedak yang mengalami kerusakan.

Kualitas dedak padi secara kuantitatif dapat dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan metode proksimat. Dedak padi yang berkualitas baik mempunyai protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12.4%, lemak 13.6% dan serat kasar 11.6%. Dedak padi menyediakan protein yang lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tingi dalam niasin (Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan).

 

Tepung Ikan

Tepung ikan dapat berasal dari ikan jenis kecil maupun jenis besar atau limbah/sisa bagian-bagian ikan yang tidak diikutsertakan dalam pengalengan. Kendala yang sering dijumpai adalah bahwa kadar lemak yang tinggi dari tepung ikan karena bahan baku awal tinggi lemak atau dalam proses pengolahan tidak dilakukan pembuangan lemaknya. Tepung ikan yang baik bila kadar lemak 10% dan tidak asin. Rasa asin ini terjadi karena penambahan NaCl sebagai pengawet sering ditambahkan pada bahan baku ikan yang kurang segar. Tepung ikan yang ada di Indonesia dibedakan antara impor dan lokal. Sementara ini tepung impor dianggap lebih baik karena protein kasar lebih dari 60% dan kadar lemak rendah, sedangkan tepung ikan lokal dengan konversi randemen 20% dari bahan baku hanya mempunyai kadar protein kasar 55-58% dan termasuk grade C, pemakaian tepung ikan untuk ransum unggas berkisar 10-15% dengan syarat sumbangan lemak ransum dari tepung ikan maksimal 1% (Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan)

 

Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai termasuk dalam klasifikasi bahan pakan sumber protein, berbentuk serbuk, berwarna cokelat, bau apek, rasa hambar dan zat antinutrisinya berupa mimosin. Menurut Wahju (1997) bahwa bungkil kedelai memiliki kandungan zat nutrisi yaitu 4,9% abu, 16,6% lemak kasar, 60% serat kasar, 26,1% BETN dan 32,4% protein kasar. Rasyaf (1994) menambahkan bahwa protein yang terkandung oleh bungkil kedelai cukup tinggi terutama untuk protein kasarnya, sehingga kurang baik jika diberikan terlalu banyak  dan dalam penyusunan ransum bungkil kedelai digunakan sebagai sumber protein. Kualitas bungkil kedelai tergantung pada proses pengambilan minyaknya, varietas kacang kedelai dan kualitas kacang kedelainya.

Kedelai mentah mengandung beberapa penghambat tripsin. Penghambat tripsin ini (antitripsin) tidak tahan panas, sehingga bungkil kedelai yang mengalami proses pemanasan terlebih dahulu tidak menjadi masalah dalam penyusunan ransum untuk unggas. Kualitas bungkil kedelai ditentukan oleh cara pengolahan. Pemanasan yang terlalu lama dapat merusak kadar lisin (Wahju.1997).

Kapur

Kapur dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku nutrisi pakan ternak yang dikenal dengan sebutan kalsium hidrofosfat (CaHPO4). Kalsium hidrofosfat merupakan senyawa anhidrat dan dihidrat yang dapat digunakan dalam berbagai industri, khususnya industri pakan ternak. Kalsium dan fosfor apabila dicampurkan pada kondisi tertentu akan mengalami proses sintesis sehingga membentuk Ca-Hidrofosfat yang dapat digunakan sebagai bahan baku nutrisi pakan ternak. Hingga saat ini di Indonesia belum ada industri yang membuat Ca-Hidrofosfat sehingga masih diimpor (Anonim, 2010).

 

Ransum Bentuk Mash

Mash adalah bentuk ransum yang paling sederhana yang merupakan campuran serbuk (tepung) dan granula. Tepung merupakan bentuk halus mudah dicerna oleh ternak unggas, seperti ayam, pada umumnya diberikan untuk ayam baru menetas/pada masa starter. Ransum dalam bentuk ini sangat mudah rusak apabila tercampur air (Nawawi, 2003).

 

Ransum Bentuk Crumble

Menurut Nawawi (2003), butiran merupakan bentuk pakan yang lebih besar dari pada tepung, bahan dalam bentuk ini diperoleh dari bahan pakan yang telah dipecahkan ataupun yang sudah dalam bentuk butiran pada awalnya. Ransum dalam bentuk ini agak keras dan cukup lama dicerna oleh ayam, misalnya: di dalam tembolok bahan pakan ini dapat bertahan sampai tiga jam.

 

Kandang Battery

            Kandang battery adalah kandang berbentuk kotak atau sangkar (cage) yang terbuat dari kawat atau bilah-bilah bamboo, reng, dan kayu (kaso). Setiap sangkar yang berukuran 40cm x 40cm x 20cm bagi tiap ekor ayam ditata secara bersambung satu sama lain sehingga membentuk unit-unit memanjang yang mampu menampung ayam hingga ratusan bahkan ribuan ekor (Sudarmono, 2003).

Kandang battery ini memiliki sistem ventilasi yang sangat baik karena udara leluasa masuk ke dalam setiap sangkar. Udara dapat bertiup pada setiap ekor ayam baik dari samping maupun dari bawah, karena battery ditempatkan minimal 40cm dari permukaan lantai. Kondisi ventilasi pada kandang battery yang baik memungkinkan kandang mampu menampung populasi ayam lebih banyak dari pada lantai litter dengan luas kandang yang sama. Disamping memiliki segi-segi yang sangat menguntungkan bagi peternak, kandang battery ini juga memiliki kekurangan-kekurangan yang harus diantisipasi (Sudarmono, 2003).

 

Sekam

            Sekam adalah bagian terluar dari butir padi yang merupakan hasil samping saat proses penggilingan padi. Sekitar 20-30% dari bobot padi adalah sekam, dan kurang lebih 15% dari komposisi sekam adalah abu yang selalu dihasilkan setiap pembakaran sekam. Sekam padi terdiri dari serat kasar yang berguna untuk menutupi kariopsis dengan persentase mencapai 35-68%. Serat kasar ini terdiri dari dua bagian yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan (Hambali, 2007).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

METODE

 

Materi

            Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ayam broiler, jagung, dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai, kapur, ransum mash, ransum crumble, kandang battery, tampat pakan dan air minum, timbangan, plastik alas kandang, dan sekam.

 

Prosedur

            Ternak dipuasakan selama 24 jam dan hanya diberi air minum untuk menghilangkan pengaruh makanan sebelumnya. Sebelum diberi perlakuan, bobot ayam ditimbang terlebih dahulu. Setelah itu, bahan makanan jagung dan dedak padi ditimbang sebesar 100 gram, tepung ikan dan bungkil kedelai 50 gram, kapur 10 gram, serta ransum mash dan crumble 100 gram. Masing-masing bahan makanan tersebut dimasukan ke dalam plastik secara terpisah. Lalu tiap-tiap bahan makanan dimasukkan ke dalam tempat makanan sebanyak separuh dari jumlah dalam plastik (satu bahan dalam satu wadah). Jika sudah selesai, tempat makanan tersebut diletakkan pada kandang sesuai perlakuan (satu ekor ayam mendapat satu perlakuan). Air minum diberikan ad libitum pada tempat terpisah. Bahan makanan dapat ditambah dengan ditimbang terlebih dahulu. Setelah 24 jam, dilakukan penimbangan sisa makanan yang ada di dalam tempat makan. Konsumsi tiap-tiap bahan makanan dan ransum pada tiap perlakuan dihitung. Selain itu, konsumsi energy, protein, dan kalsium dari tiap bahan yang dikonsumsi pada tiap perlakuan dihitung dengan menggunakan data kandungan nutrient bahan makanan dari Tabel NRC 1994.

Keterangan Perlakuan (P):

P1: jangung, tepung ikan, bungkil kedele, dan kapur.

P2: dedak padi, tepung ikan, bungkil kedele, dan kapur.

P3: jagung, dedak padi, tepung ikan, dan kapur.

P4: jagung, dedak padi, bungkil kedele, dan kapur.

P5: jagung, dedak padi, tepung ikan, bungkil kedele, dan kapur.

P6: ransum mash dan ransum crumble.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut:

 

Tabel 1. Konsumsi masing-masing bahan pakan.

Perlakuan

BM

KK1

KK2

KK3

KK4

KK5

KK6

Rataan

P1

Jagung

87

85

67

66

62

86

75.5

tepung ikan

9

0

6

9

1

1

4.33

bungkilkedelai

28

18

50

14

17

18

24.17

Kapur

0

0

0

1

1

2

0.67

P2

dedak padi

65

49

25

45

73

26

47.16667

tepung ikan

3

1

0

1

0

0

0.833333

bungkil kedelai

50

49

40

49

50

73

51.83333

Kapur

0

3

0

0

1

2

1

P3

Jagung

97

99

96

96

91

91

95

dedak padi

3

2

30

16

3

9

10.5

tepung ikan

4

1

10

10

0

0

4.166667

Kapur

0

2

5

0

0

0

1.166667

P4

Jagung

64

56

60

87

59

52

63

dedak padi

2

4

0

7

7

1

3.5

bungkil kedelai

14

20

20

10

24

16

17.33333

Kapur

0

0

5

0

1

0

1

P5

Jagung

95

98

95

90

99

75

92

dedak padi

2

51

0

19

1

5

13

tepung ikan

0

1

0

4

0

1

1

bungkil kedelai

0

0

20

5

2

0

4.5

Kapur

0

5

5

0

2

0

2

P6

r. Mash

14

17

20

30

37

20

23

r. Crumble

100

96

85

93

97

83

92.33333

 

Tabel 2. Konsumsi ransum komersial.

Perlakuan

BM

KK1

KK2

KK3

KK4

KK5

KK6

Rataan

P6

r. Mash

14

17

20

30

37

20

23

r. Crumble

100

96

85

93

97

83

92.33333

 

 

 

Tabel 3. Konsumsi energi, protein, dan kalsium pada setiap perlakuan.

Perlakuan

BM

Rataan Kons.

Kons. En

Kons. PK

Kons. Ca

P1

Jagung

75.5

252.925

6.4175

0.0151

tepung ikan

4.33

12.2106

2.6021667

0.2214333

bungkilkedelai

24.17

53.8991

10.633333

0.0700833

Kapur

0.67

0

0

0.2533333

P2

dedak padi

47.16666667

140.5566667

6.0845

0.0330167

tepung ikan

0.833333333

2.35

0.5004167

0.0425833

bungkil kedelai

51.83333333

115.5883333

22.806667

0.1503167

Kapur

1

0

0

0.38

P3

Jagung

95

318.25

8.075

0.019

dedak padi

10.5

31.29

1.3545

0.00735

tepung ikan

4.166666667

11.75

2.5020833

0.2129167

Kapur

1.166666667

0

0

0.4433333

P4

Jagung

63

211.05

5.355

0.0126

dedak padi

3.5

10.43

0.4515

0.00245

bungkil kedelai

17.33333333

38.65333333

7.6266667

0.0502667

Kapur

1

0

0

0.38

P5

Jagung

92

308.2

7.82

0.0184

dedak padi

13

38.74

1.677

0.0091

tepung ikan

1

2.82

0.6005

0.0511

bungkil kedelai

4.5

10.035

1.98

0.01305

Kapur

2

0

0

0.76

P6

r. Mash

23

r. Crumble

92.33333333

 

 

Tabel 4. Konsumsi total energi, protein, dan kalsium dari setiap perlakuan.

Perlakuan

BM

Rataan Kons.

Total En

Total PK

Total Ca

P1

Jagung

75.5

319.03

19.65

0.56

tepung ikan

4.33

Bungkilkedelai

24.17

Kapur

0.67

P2

dedak padi

47.16666667

258.495

29.391583

0.6059167

tepung ikan

0.833333333

bungkil kedelai

51.83333333

Kapur

1

P3

Jagung

95

361.29

11.931583

0.6826

dedak padi

10.5

tepung ikan

4.166666667

Kapur

1.166666667

P4

Jagung

63

260.13333

13.433167

0.4453167

dedak padi

3.5

bungkil kedelai

17.33333333

Kapur

1

P5

Jagung

92

359.795

12.0775

0.85165

dedak padi

13

tepung ikan

1

bungkil kedelai

4.5

Kapur

2

P6

r. Mash

23

r. Crumble

92.33333333

 

Pembahasan

            Berdasarkan hasil yang terdapat pada Tabel 1, dapat diketahui bahwa dalam praktikum Cafeteria Feeding ini ternak bisa lebih bebas memilih pakan yang akan dikonsumsi sesuai dengan kebutuhannya. Bahan makanan tersebut terdiri dari jagung dan dedak padi yang merupakan sumber energi, tepung ikan sebagai sumber protein hewani, bungkil kedele sebagai sumber protein nabati, dan kapur sebagai sumber mineral yaitu kalsium. Jadi ketika ternak tersebut membutuhkan energi, maka yang dipilihnya adalah jagung atau dedak padi. Ketika protein sedang dibutuhkan, maka yang dikonsumsi adalah tepung ikan atau bungkil kedele. Begitu pula dengan kapur, ternak akan mengkonsumsinya ketika membutuhkan mineral. Namun pada setiap perlakuan, konsumsi kapur hanya sedikit. Hal ini dapat disebabkan oleh ayam yang digunakan pada percobaan ini adalah ayam pada tahap grower sehingga yang lebih banyak dibutuhkan adalah sumber energi dan protein.

Tabel 2 memperlihatkan tentang palatabilitas atau daya suka ternak unggas terhadap pakan yang berbentuk mash (tepung) atau pakan yang berbentuk crumble (butiran). Berdasarkan data yang diperoleh, rataan konsumsi pakan yang berbentuk crumble lebih besar dibandingkan rataan konsumsi pakan mash. Hal tersebut menunjukkan bahwa ternak unggas lebih menyukai pakan yang berbentuk butiran dari pada bentuk tepung/halus. Hal ini disebabkan oleh pakan yang berbentuk butiran lebih mudah untuk diambil/dipatuk.

Konsumsi total energi, protein, dan kalsium dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4. Berdasarkan hasil yang diperoleh, konsumsi total energi lebih banyak dari pada konsumsi total protein dan kalsium. Pada konsumsi sumber energi, yaitu jagung dan dedak padi, ternak lebih banyak mengkonsumsi jagung dibandingkan denan dedak. Hal ini dapat disebabkan oleh dedak padi yang bersifat pencahar sehingga ketika dikonsumsi dalam jumlah besar, maka ternak akan mengalami kesulitan dalam pengosongan perut. Sama halnya dengan konsumsi sumber energi, ternak lebih banyak memilih bungkil kedele dibanding tepung ikan pada konsumsi sumber protein. Hal ini menunjukan bahwa palatabilitas ayam terhadap bungkil kedele lebih tinggi dibandingkan dengan tepung ikan. Sumber kalsium yang digunakan pada percobaan ini adalah kapur. Namun pada semua perlakuan, sumber kalsium adalah pakan yang paling sedikit dikonsumsi dibandingkan dengan sumber energi dan protein. Hal ini menunjukkan bahwa sumber mineral yang dibutuhkan oleh ternak ayam hanya dalam jumlah kecil saja.

KESIMPULAN

 

            Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan secara terpisah dapat memudahkan ayam dalam menyusun ransumnya sendiri sesuai dengan kebutuhan. Pakan yang paling banyak dikonsumsi adalah pakan sumber energi seperti jagung dan dedak padi, dilanjutkan oleh pakan sumber protein seperti bungkil kedele dan tepung ikan, dan yang paling sedikit adalah pakan sumber mineral yaitu kapur. Selain itu, pakan yang lebih disukai oleh ternak ayam adalah pakan yang berbentuk crumble atau butiran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Dudung. 2006. Budidaya Ayam Bangkok. Yogyakarta: Kanisius.

Anonim. 2010. Kapur [terhubung berkala] http://www.tekmira.esdm.go.id/kp/PengolahanMineral/kalsiumhidrofosfat.asp (10 Desember 2011)

Hambali, E dkk. 2007. Teknologi Bioenergi. Bogor: PT AgroMedia Pustaka.

Nawawi M. Thamrin, S. Nurrohmah. 2003. Ransum Ayam Kampung. Jakarta: Penebar Swadaya.

Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Yogyakarta: Kanisius.

Sudarmono, A. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Yogyakarta: Kanisius

Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan. -. Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. CV Nutri Sejahtera, Bogor.

Wahju1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.