Laporan Praktikum Ke-6                                Hari/Tanggal   : Kamis, 29 Maret 2012

Integrasi Proses Nutrisi                                   Tempat            : Laboratorium

Nama Asisten  : Febynia Mutiara Zainatha

Rika Zahera

Dwi Wahyu Nugraeni

Dea Justia Nurjana

Ibu Adriani

 

 

 

 

 

 

 

TANIN

Yusuf Jafar Rizali

D14100064

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

            Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder pada tanaman. Kadar tanin pada hijauan pakan ternak tergantung pada fase tumbuh dan kondisi lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh, seperti intensitas cahaya yang berpengaruh pada biosintesa dan akumulasi fenolat (Rosenthal & Berenbaum, 1992). Dari segi pakan ternak, tanin dapat mempunyai pengaruh negatif dan positif terhadap ternak ruminansia, tergantung dari jenis tanin yang terkandung pada hijauan pakan ternak tersebut dan konsentrasi tanin yang dikonsumsi oleh ternak. Oleh sebab itu analisis kimia yang tepat untuk mengetahui jenis dan konsentrasi tanin yang terdapat pada hijauan pakan ternak sangat penting untuk dapat menggambarkan mekanisme dan pengaruhnya pada ternak.

Jenis-jenis hijauan pakan ternak yang ada di kawasan tropika cukup banyak yang mengandung tanin, dan ini tentunya memberikan nilai tambah yang ada pada hijauan tersebut apabila dipahami betul tentang manfaat dan pengaruh dari pemberian hijauan pakan yang mengandung tanin.

Tujuan

            Mendeteksi keberadaan tanin di dalam hijauan pakan ternak dan mengetahui senyawa yang mampu berikatan dengan tanin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Tanin

            Tanin merupakan turunan fenol. Pada mikroskop, tanin biasanya tampak sebagai massa butiran bahan berwarna kuning, merah, atau cokelat. Tanin dapat ditemukan dalam bagian yang berbeda dari tumbuhan, misalnya pada daun, periderm, jaringan pembuluh, buah yang belum masak, kulit biji, dan jaringan yang tumbuh karena penyakit. Tanin dapat ditemukan dalam sel biasa atau dalam idioblas. Di dalam sel, tanin terdapat dalam vakuola atau dalam bentuk tetes di sitoplasma dan sering kali masuk ke dalam dinding sel, misalnya dalam jaringan gabus. Tanin berperan sebagai pelindung tumbuhan untuk melawan dehidrasi, pembusukan, dan perusakan oleh hewan. Secara komersial, tanin digunakan khususnya dalam industri penyamakan kulit (Mulyani, 2006).

Menurut Shinya (2008), tanin adalah beberapa antioksidan berjenis polifenol–yang mencegah atau menetralisir efek radikal bebas yang merusak–yang menyatu dan mudah teroksidasi menjadi asam tanat. Yuliarti (2009) menambahkan bahwa tanin adalah senyawa polifenol dari kelompok flavonoid yang berfungsi sebagai Antioksidan kuat, antiperadangan dan antikanker (anticarcinogenic). Tanin dikenal juga sebagai zat samak untuk pengawetan kulit, yang merupakan efek tanin yang utama sebagai adstringensia yang banyak digunakan sebagai pengencang kulit dalam kosmetik.

Tanin adalah komponen yang banyak terdapat pada teh, cranberries, dan buah delima. Komponen inilah yang telah memberikan rasa pahit pada bahan pangan tersebut. Tanin bermanfaat untuk mencegah oksidasi kolesterol LDL di dalam darah sehingga dapat mengurangi risiko stroke. Namun, konsumsi makanan yang mengandung tanin sebaiknya tidak berlebihan karena tanin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan protein dan zat besi, sehingga kedua zat gizi tersebut menjadi kurang tersedia di dalam tubuh (Astawan dan Andreas, 2008). Tanin merupakan astrigen, polifenol tanaman berasa pahit yang dapat mengikat dan mengendapkan protein. Umumnya tanin digunakan untuk penyamakan kulit, tetapi tanin juga banyak aplikasinya di bidang pengobatan, misalnya untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir (Yellia, 2009).

 

Gamal (Gliricidia sepium)

            Tanaman gliricidia mempunyai banyak nama, antara lain disebut pohon ayek atau lanbo (Sumatra Utara), cep-byar (Jawa Barat), lirisidia (Jawa Tengah),  johar tulung agung atau johar gembira loka (Yogyakarta),  wit sepium (Surakarta), kelor wana (Malang Selatan), wit salire dhewe (Purwokerto), lirik sidia atau haji rasidia (Madura), dan pohon ampere (Bali Selatan). Tanaman gamal berasal dari Amerika Tengah. Tanaman ini didatangkan ke Indonesia pada tahun 1870, digunakan sebagai tanaman sela pada perkebunan di Sumatra dan Jawa (Rukmana, 2005).

Daun gamal merupakan sumber protein sehingga cocok sebagai makanan ternak dan suplemen pada hijauan yang berkualitas rendah. Komposisi nutrisi daun gamal terdiri atas: bahan kering 23,0%; protein kasar 25,2%; lemak 4,9%; dan BETN 55,5%. Selain itu, daun gamal juga kaya akan mineral (Rukmana, 2005).

Lamtoro

            Lamtoro biasa (Leucaena diversifolia) lebih dikenal dengan nama daerah petai cina, pete selong (Melayu); peuteuy selong, palandingan (Sunda); metir, melandingan, toro (Jawa). Sementara, Leucaena leucocephala dikenal dengan sebutan lamtoro gung atau lamtoro hibrida. Kayu lamtoro local maupun lamtoro gung mempunyai kualitas yang baik dengan berat jenis 0,6-0,7; cukup keras; dan serat kayu pendek (Purwanto, 2007).

Sebagai pakan ternak, lamtoro gung memiliki tingkat kecernaan 55-70%. Berdasarkan hasil penelitian, dari 100 g bahan basah, dihasilkan bahan kering sebesar 85%, dengan kandungan protein 20-25%; ekstrak ether 6%; nitrogen bebas 20-30%; lemak 5-10%; energy 3,89%; kadar abu 8-12%; tannin 1,5-2,5%; kalsium 0,8-1,8 ppm; dan fosfor 0,23-0,27 ppm. Pada daerah yang beriklim kering seperti Gunung Kidul, Bali Barat Utara, dan NTB, kontribusi daun lamtoro untuk ketersediaan pakan ternak sangat besar (Purwanto, 2007).

Teh

            Zat bioaktif yang ada dalam teh, terutama merupakan golongan flavonoid. Flavonoid yang secara luas tersebar dalam berbagai tanaman ini, berdasarkan struktur dan konformasi ring C molekul dasarnya, dapat digolongkan menjadi 6 kelas, yaitu flavones, flavanone, isoflavone, flavonol, flavanol, dan antocyanin. Adapun flavonoid yang ditemukan pada teh terutama berupa flavanol dan flavonol. Selain flavonoid, ada satu jenis zat bioaktif dalam daun teh yang mungkin belum banyak dikenal meskipun sudah lama ditemukan, yaitu asam amino bebas yang disebut sebagai L-theanin (Hartoyo, 2003).

Putih Telur (Egg White)

            Putih telur atau albumin merupakan cairan yang tidak berwarna, mengandung kurang lebih 78% air. Beberapa karakteristik protein putih telur mentah antara lain bersifat racun baik untuk hewan maupun manusia seperti avidin, flavoprotein dan sebagainya. Oleh karena itu sebaiknya dilakukan pemanasan supaya daya racunnya sirna (S. Emma, 2005).

Menurut Paran (2009), putih telur mengandung 86% air di dalamnya. Biasanya putih telur yang lebih dekat dengan kuning telur bersifat lebih kental daripada putih telur yang dekat dengan cangkang/kulit telur. Kandungan nutrisi pada putih telur antara lain: karbohidrat 0,8 g; mineral 0,60 g; kalsium 6,0 mg; fosfor 17,0 mg; Besi 0,2 mg; vitamin A (retinol) 0 mcg; vitamin B1 (tiamin) 0,01 mg; dan vitamin C (asam askorbat) 0 mg.

 

Kaliandra

            Calliandra calothyrsus merupakan salah satu leguminosa yang mempunyai kandungan protein yang tinggi sehingga pemberiannya dapat meningkatkan produksi ternak ruminansia. Sebagai makanan ternak, kaliandra cukup baik karena mempunyai nilai gizi yang tinggi. Kaliandra dapat digunakan sebagai pakan sumber protein pengganti lamtoro. Kaliandra sebagai tanaman leguminosa mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi yaitu sebesar 22% berdasarkan bahan kering. Namun kecernaannya rendah yaitu sekitar 35-42% Karena kadar tannin yang cukup tinggi sekitar 10% (Jayadi, 1991).

            Zat anti nutrisi yang terdapat pada kaliandra adalah tanin (National Research Council, 1983). Menurut Tangenjaja dan Wina (2000), kaliandra agar dapat dimanfaatkan sebagai komponen ransum unggas harus diolah terlebih dahulu.

 

Daun Singkong

            Rukmana (1997) menyatakan bahwa limbah ubi kayu termasuk salah satu bahan pakan ternak yang mempunyai energi (Total Digestible Nutrient = TDN) tinggi dan kandungan nutrisi tersedia dalam jumlah memadai. Kandungan HCN dari daun singkong dapat mencapai 6 kali kandungan HCN umbinya. Di dalam daun singkong terdapat zat antinutrisi saponin dan tanin. Pada daun singkong segar zat antinutrisi ini akan banyak berkurang ( >90% ) bila daun singkong dicacah, dijemur atau dilayukan selama 1-2 hari sebelum dijadikan sebagai campuran ransum. Daun singkong dapat disimpan pada suhu ruang (25ºC) hingga 2 bulan, dan dalam penyimpanan ini dapat mengurangi kadar zat antinutrisi tanpa berpengaruh banyak pada penurunan kandungan protein. Ubi kayu yang tergolong manis maupun pahit selalu mengandung HCN (Ravindran et al.,1985). Ubi kayu yang manis kadar HCN nya lebih rendah daripada jenis ubi kayu pahit, tetapi tidak ada korelasi antara HCN yang terkandung pada jenis ubi kayu tersebut dengan kandungan proteinnya (Terra, 1966).

 

Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)

            Bunga sepatu merupakan tanaman perdu dengan tinggi mencapai 4 meter. Tanaman ini akan tumbuh baik pada kondisi tanah yang lembab dengan pemupukan sebualan sekali (Kimbrough, 1978). Jalaludin (1994), mengemukakan bahwa bunga sepatu selain merupakan sumber hijuan ruminansia juga dapat digunakan sebagai agnesia defaunasi. Didalam bunga sepatu mengandung saponin yang mampu meredam protozoa.

MATERI DAN METODE

 

Materi

            Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi, mortar, corong, kapas, gelas piala, kompor, pipet tetes, spoit 1 ml, dan lain-lain yang dibutuhkan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah daun (kaliandra, singkong, bunga sepatu, gamal, lamtoro, dan teh), telur (ayam ras, ayam kampong, telur bebek, dan telur burung puyuh), susu (sapi, skim dan kedelai), dan larutan (FeCl3, NaOH 1 N, glukosa 1%, xylosa 1% dan xylan 1%, CuSO4 1% dan FeSO4.

 

Metode

Persiapan Sampel

Hal yang dilakukan pertama-tama adalah sampel disiapkan terlebih dahulu. Semua daun digerus dengan mortar dan pestel, kemudian ditimbang kira-kira 2 gram untuk masing-masing daun, dan dimasukkan ke  dalam gelas piala. Setelah itu ditambahkan 100 ml air panas dan dididihkan selama 5 menit, kemudian disaring dengan menggunakan corong dan kapas. Filtrat dari masing-masing daun diambil untuk percobaan sedangkan ampasnya dibuang.

 

Uji Tanin

Sebanyak 5ml filtrat sampel diambil dan dimasukan kedalam tabung reaksi, kemudian ditambah dengan larutan FeCl3. Jika terjadi berubah warna menjadi hitam kehijauan bearti menunjukan  adanya tanin. Perlakuan ini dilakukan pada setiap daun dan hasilnya dibandingkan.

 

Uji Kunion

Sebanyak 5ml filtrat dari masing-masing daun dimasukan dalam tabung reaksi kemudian ditambah dengan larutan NaOH. Jika warna yang terbentuk merah menunjukan adanya tanin.

 

 

Uji pengikatan senyawa protein

Sebanyak 5 ml filtrat dari masing-masing daun dimasukan dalam tabung reaksi ditambah dengan 1 ml susu sapi, dengan cara yang sama dilakukan pula pada penambahan protein yang berbeda yaitu dengan telur, dan susu skim serta susu kedelai, kemudian diamati endapan yang terjadi.

 

Uji pengikatan senyawa Karbohidrat

5 ml filtrat dari masing-masing daun dimasukan dalam tabung reaksi ditambah dengan larutan glukosa 1%, dengan cara yang sama setiap masing-masing daun ditambahkan pula larutan sukrosa 1%,pati, carboxy, xylosa dan laktosa1%. Kemudian dibandingkan dengan percobaan diatas.

 

Uji pengikatan senyawa Mineral

Sebanyak 5 ml filtrat dari masing-masing daun dimasukan dalam tabung reaksi lalu ditambah dengan larutan CuSO4 sebanyak 1-2 tetes, perubahan yang terjadi diamati. Prosedur yang sama dilakukan dengan perlakuan yang berbeda yaitu dengan meneteskan larutan KCl. Setelah melakukan uji pengikatan atau pengendapan maka hasil yang didapat dibandingkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel. 1 Hasil Pengamatan Uji Tanin

Sampel

Perubahan Warna

Daun Teh

++++

Daun Kaliandra

+++

Daun Lamtoro

Kembang Sepatu

+

Daun Gamal

++

Daun Singkong

++

Keterangan :

–           : Tidak ada perubahan

+          : Hijau

++        : Hijau agak kehitaman

+++     : Hitam

++++   : Sangat hitam

 

Tabel. 2 Hasil Pengamatan Uji Kuinon

Sampel

Perubahan Warna

Daun Teh

++++

Daun Kaliandra

++

Daun Lamtoro

+++

Kembang Sepatu

Daun Gamal

+

Daun Singkong

Keterangan :

–           : Tidak ada perubahan

+          : Kuning bening

++        : Kuning

+++     : Kuning kemerahan

++++   : Sangat Merah

 

Tabel. 3 Hasil Pengamatan Uji Ikatan Tanin dengan Protein

Sampel

Protein

Putih Telur

Susu Full Krim

Sari Kedelai

Daun Teh

+++

++

+

Daun Kaliandra

++

++

++

Daun Lamtoro

++

+

+++

Kembang Sepatu

+

+++

+++

Daun Gamal

+

++

++

Daun Singkong

++

+

Keterangan :

+          : Sedikit endapan

++        : Ada endapan

+++     : Banyak endapan

 

Tabel. 4 Hasil Pengamatan Uji Ikatan Tanin dengan Mineral

Sampel

Larutan Mineral

CuSO4

KCl

Daun Teh

Daun Kaliandra

Daun Lamtoro

Kembang Sepatu

Daun Gamal

Daun Singkong

Keterangan :

–           : Tidak ada endapan

 

Tabel. 5 Hasil Pengamatn Uji Ikatan Tanin dengan Karbohidrat

Larutan

Sampel

 

Daun Teh

Daun Kaliandra

Daun Lamtoro

Kembang Sepatu

Daun Gamal

Daun Singkong

Fruktosa

+

+

+

+

Sukrosa

Glukosa

Pati

+

++

++

+

+

CMC

+

++

+

Xylosa

+

+

++++

+

++

+

Keterangan :

–           : Tidak ada endapan

+          : Sedikit endapan

++        : Ada endapan

+++     : Banyak endapan

 

Pembahasan

            Tanin adalah komponen yang banyak terdapat pada teh, cranberries, dan buah delima. Komponen inilah yang telah memberikan rasa pahit pada bahan pangan tersebut. Tanin bermanfaat untuk mencegah oksidasi kolesterol LDL di dalam darah sehingga dapat mengurangi risiko stroke. Namun, konsumsi makanan yang mengandung tanin sebaiknya tidak berlebihan karena tanin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan protein dan zat besi, sehingga kedua zat gizi tersebut menjadi kurang tersedia di dalam tubuh (Astawan dan Andreas, 2008). Tanin merupakan astrigen, polifenol tanaman berasa pahit yang dapat mengikat dan mengendapkan protein. Umumnya tanin digunakan untuk penyamakan kulit, tetapi tanin juga banyak aplikasinya di bidang pengobatan, misalnya untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir (Yellia, 2009).

Sebagaimana dikemukakan di atas, tanin merupakan senyawa metabolit sekunder untuk sistim pertahanan tanaman dari serangan serangga dan fungi, serta menghambat pemanfaatan secara berlebihan oleh hewan herbivore sebagai sumber pakan. Sebagai sistim pertahanan diri bagi tanaman, maka tanin mempunyai pengaruh negatif maupun positif bagi ternak yang mengkonsumsi pakan mengandung tanin. Hal ini terutama berlaku bagi herbivore. Menurut Hagerman & Robbins (1993) mamalia yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan tanin cukup tinggi akan menurunkan tingkat kecernaan bahan kering dan protein, kenaikan berat badan dan juga mengakibatkan terhambatnya pematangan sel reproduksi. Menurunnya kecernaan bahan kering, protein maupun tingkat konsumsi pakan yang mengandung tanin disebabkan oleh sifat tanin tersebut, yaitu dapat berikatan dengan membentuk kompleks protein-tanin yang tidak larut dalam air, menyebabkan kekeruhan, mengendap dan menghambat aktivitas enzim (Swain 1965; Djiwadi et al. 1987). Tanin pada umumnya menghambat aktivitas enzim dengan jalan membentuk ikatan kompleks dengan protein pada enzim dan juga dengan substrat. Menurunnya kecernaan bahan kering dapat juga disebabkan oleh mikroorganisme rumen yang sensitif terhadap tanin, yaitu mengakibatkan menurunnya aktivitas mikroba. Lokasi utama aktivitas tanin pada mikroorganisme yang sensitif diperkirakan adalah pada dinding sel, karena tanin mengakibatkan pleomorfisme pada mikroorganisme yang ukurannya bertambah besar tanpa membelah diri. Reaksi tanin tersebut dengan dinding sel mengakibatkan rusaknya permeabilitas dinding sel (McLeod, 1974). Menurunnya tingkat konsumsi karena adanya absorpsi fenolat, yang salah satunya adalah tanin, pada ternak kemungkinan disebabkan adanya perubahan sistim fisiologis  atau disebabkan keracunan (Robbins et al., 1987).

Tanin, disamping menimbulkan pengaruh negatif juga dapat menimbulkan pengaruh positif apabila kadarnya tidak melebihi tingkat optimum. Hal ini adalah dengan jalan menghindarkan protein hijauan tersebut dari degradasi protein pada rumen, dengan terbentuknya ikatan kompleks tanin-protein. Ikatan kompleks antara tanin dengan protein selanjutnya dapat dicerna pada usus sehingga protein dapat diserap dan digunakan oleh ternak tanpa terlebih dahulu didegradasi atau dimanfaatkan oleh mikroba rumen.

Disamping perannya dalam menghindarkan protein terhadap degradasai pada rumen, maka tanin juga berperan sebagai senyawa untuk menghindari terjadinya kembung (bloat). Mekanisme pencegahan terjadinya kembung oleh tanin adalah karena adanya reaksi antara condensed tannin dengan protein yang dapat larut pada cairan rumen untuk kemudian membentuk busa yang mengakibatkan kembung (Mangan, 1988).

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat diketahui bahwa pada tabel 1 tentang uji tanin hanya daun lamtoro saja yang tidak mengalami perubahan warna. Hal tersebut membuktikan bahwa daun lamtoro tidak mengandung tanin dan kalau pun ada, itu hanya sedikit. Pada tabel 2 yaitu tentang uji kunion yang menunjukkan bahwa bunga sepatu dan daun singkong tidak mengalami perubahan warna. Hal tersebut membuktikan bahwa kedua daun tersebut tidak mengandung kunion. Tabel 3 memperlihatkan uji ikatan tanin dengan protein. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa tanin yang ada pada setiap daun dapat mengikat protein dan yang berbeda hanyalah dalam hal kuantitas tanin yang berikatan karena setiap daun memiliki jumlah tanin yang berbeda. Tabel 4 memperlihatkan uji ikatan tanin dengan mineral. Hasil yang diperloleh menunjukkan bahwa tidak ada endapan di setiap daun. Hal tersebut membuktikan bahwa tanin tidak dapat mengikat mineral. Tabel 5 memperlihatkan uji ikatan antara tanin dengan karbohidrat. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada larutan yang mengendap dan ada juga yang tidak mengendap. Hal tersebut membuktikan bahwa tidak semua karbohidrat dapat berikatan dengan tanin. Hanya beberapa saja yang dapat berikatan dan jumlahnya pun berbeda.

KESIMPULAN

 

            Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pada setiap hijauan pakan ternak sudah pasti mengandung tanin yang berbeda jumlahnya. Selain itu, telah diketahui bahwa senyawa yang dapat diikat oleh tanin adalah protein dan karbohidrat. Hal tersebut dapat mengakibatkan protein dan karbohidrat yang ada pada pakan ternak tidak dapat diserap dengan baik. Penghilangan kandungan tanin tersebut dapat diminimalisir dengan cara diolah seperti hijauan yang dipanaskan terlebih dahulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Astawan, Made dan Andreas Leomitro Kasih. 2008. Khasiat Warna-warni Makanan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Djiwadi, H. I., B.S.L Jenie dan A. Apriyanto. 1987. Kompleks protein tannin: teori dan implikasinya dalam makanan. Media Teknologi Pangan 3:47-56.

Hagerman, A. E. and C. T. Robbins. 1993. Specificity of tannin-binding salivary proteins relative to diet selection by mammals. Canadian Journal of Zoology 71:627-663.

Hartoyo, Arif. 2003. The dan Khasiatnya bagi Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Jalaludin. 1994. Uji Banding Gamal dan Angsana Sebagai Sumber Protein, Daun Kembang Sepatu dan Minyak Kelapa Sebagai Agensia Defaunasi dan Suplementasi Analog Hidroksi Metionin dan Amonium Sulfat dalam Ransum Pertumbuhan Sapi Perah Jantan. Tesis. Pascasarjana- Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Jayadi, S. 1991. Tumbuhan Makanan Ternak Tropika. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor

Kimbrough, W.D. 1978. Hibiscus. Encyclopedia Americana. Americana Coorporation, United State of America.

Mangan, J. L. 1988. Nutritional effects of tannins in animal feeds. Nutrition Research Review 1: 209-231.

McLeod, M. N. 1974. Plant Tannins-Their role in forage quality. Nutrition Abstracts & Review 44: 804-815.

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

National Research Council. 1983. Calliandra: A Versatile Small Tree for the Humid Tropics. National Academy Press, Washington.

Purwanto, Imam. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Ravindran, V., E.T. Kornegay dan A.S.B. Rajaguru. 1985. Influence of processingmethods and storage time out cyanide potential of cassavaleaf meal. Journal of Animal Science and Technology 17 : 227-234.

Robbins, C. T., S. Mole, A. E. Hagerman and T. A. Hanley. 1987. Role of tannins in defending plants against ruminants: reduction in dry matter digestion. Ecology 68: 1606-1615.

Rosenthal, G. A and M. R. Berenbaum. 1992. Herbivores. Their interactions with secondary plant metabolites. Academic Press.

Rukmana, H.R. 1997. Ubi Kayu Budidaya dan Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta.

Rukmana, Rahmat. 2005. Budi Daya Rumput Unggul. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Shinya, Hiromi. 2008. The Miracle of Enzyme: Self-Healing Program. Penerjemah, Winny Prasetyowati; Penyunting, Budhyastuti R. H. Bandung; Qanita.

Swain, T. 1965. The tannin in plant biochemistry. Academic Press. New York.

S, Emma Wirakusumah. 2005. Menikmati Telur Bergizi, Lezat, dan Ekonomis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tangenjaja B, E. Wina. 2000. Daun Legum untuk Komponen Ransum Unggas. Majalah Warta, Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol.22 No.4 (2000). P 4-5.

Terra, G. Y. A. 1966. Tropical Vegetables. Komuklyk. Institute Voor de Tropen. Amsterdam.

Yellia, Mangan. 2009. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Yuliarti, Nurheti. 2009. A to Z Food Supplement. Yogyakarta: Penerbit Andi.