Laporan Praktikum Ke-3                                Hari/Tanggal   : Kamis, 8 Maret 2012

Integrasi Proses Nutrisi                                   Tempat            : Laboratorium Biokimia

dan Mikrobiologi Nutrisi

Nama Asisten  : Dea Justia Nurjana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAPONIN

Yusuf Jafar Rizali

D14100064

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

            Saponin merupakan zat antinutrisi yang terdapat pada tanaman. Keberadaan saponin pada tanaman pakan dapat menghambat proses metabolisme di dalam tubuh ternak sehingga akan menurunkan produktifitasnya. Selain itu, keberadaan saponin akan menentukan populasi mikroba dalam rumen, karena protozoa yang biasanya mengganggu mikroba akan mati oleh zat antinutrisi ini. Pengujian kandungan saponin pada bahan pakan perlu dilakukan agar kita dapat memilih hijauan yang tepat ketika membuat ransum. Keberadaan saponin dalam bahan pakan dapat diketahui dengan adanya busa pada larutan encer serta rasa pahit di lidah.

Tujuan

            Praktikum ini bertujuan mendeteksi keberadaan saponin dalam hijauan pakan  ternak dengan menggunakan pelarut air, mengetahui kestabilan busa saponin di dalam larutan saliva buatan dan cairan rumen, serta mengetahui pengaruh penggunaan saponin terhadappopulasi protozoa rumen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

Cairan Rumen

Perut hewan ruminansia terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Volume rumen pada ternak sapi dapat mencapai 100 liter atau lebih dan untuk domba berkisar 10 liter (Putnam, 1991). Bagian cair dari isi rumen sekitar 8-10% dari berat sapi yang dipuasakan sebelum dipotong (Gohl, 1981). Cairan rumen merupakan limbah yang diperoleh dari rumah potong hewan yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Bagian cair dari isi rumen kaya akan protein, vitamin B kompleks serta mengandung enzim-enzim hasil sintesa mikroba rumen (Gohl, 1981).

Church (1979) menyatakan bahwa cairan rumen mengandung enzim alfa amilase, galaktosidase, hemiselulosa dan selulosa. Rumen merupakan tabung besar untuk menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja ekstensif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan produk akhir yang dapat diasimilasi. Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dengan temperature 38-420C. Tekanan osmosis pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah, pH dipertahankan oleh adanya absorpsi asam lemak dan amoniak. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair membuffer asam-asam hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu, saliva merupakan pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. Sekresi saliva dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan, kandungan bahan kering, volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis (Arora, 1989).

Mikroba Rumen

            Di dalam rumen ternak ruminansia terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri sekitar 109 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi sekitar 105 – 106 setiap cc isi rumen (Sutardi, 1977). Jumlah protozoa dalam rumen lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah bakteri, tetapi ukuran tubuhnya lebih besar dengan panjang tubuh berkisar antara 20 sampai 200 mikron, oleh karena itu biomassa total protozoa hampir sama dengan biomassa total bakteri. Beberapa jenis bakteri/mikroba yang terdapat dalam isi rumen adalah (a) bakteri/mikroba lipolitik, (b) bakteri/mikroba pembentuk asam, (c) bakteri/mikroba amilolitik, (d) bakteri/mikroba selulolitik, (e) bakteri/mikroba proteolitik, dan sebagian besar protozoa rumen terutama dari genus Oligotricha dan Holotricha yang mempunyai aktivitas α-amylase kuat.  Jumlah protozoa akan meningkat menjadi 106 sel/ml cairan rumen pada pemberian pakan yang memiliki kandungan gula terlarut tinggi (Karina, 2011).

 

Saponin

            Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Saponin merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau hemolisis pada darah. Saponin bersifat racun bagi hewan berdarah dingin dan banyak diantaranya digunakan sebagai racun ikan. Saponin yang bersifat keras atau racun biasa disebut sebagai Sapotoksin.

Saponin adalah senyawa glikosida yang berfungsi sebagai detergen alami (Rao, 1996). Menurut Lacaille-Dubois dan Wagner (1996) aktivitas spesifik saponin meliputi aktivitas yang berhubungan dengan kanker seperti sitotoksik, antitumor, kemopreventif, antimutagen, dan yang menyangkut aktivitas antitumor, antiinflamatori dan antialergenik, imunomodulator, antivirus, antihepatotoksik, antidiabetes, antifungi, dan molusisidal.

Efek saponin berdasarkan sistem fisiologis meliputi aktivitas pada sistem kardiovaskular dan aktivitas pada sifat darah (hemolisis, koagulasi, kolesterol), sistem saraf pusat, sistem endokrin, dan aktivitas lainnya.  Saponin mampu berikatan dengan kolesterol, sedangkan saponin yang masuk kedalam saluran cerna tidak diserap oleh saluran pencernaan sehingga saponin beserta kolesterol yang terikat dapat keluar dari saluran cerna. Hal ini menyebabkan kadar kolesterol dalam tubuh dapat berkurang. (Lipkin, 1995).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI DAN METODE

 

Materi

   Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mortar dan pestel, corong, tabung reaksi, tabung fermentor, rak tabung reaksi, pipet mohr, timbangan kasar, gelas objek, gelas penutup, spoit, counting chamber, mikroskop, shaker water bath, dan alat-alat pendukung lain.

Bahan yang digunakan adalah cairan rumen, saliva buatan, daun (lamtoro, gamal, kembang sepatu, dan daun singkong), sabun cair, gas CO2, aquades, larutan TBFS, kapas dan tisue.

 

Metode

Persiapan sampel daun

            Sampel daun (lamtoro, gamal, kembang sepatu, dan daun singkong) digerus atau digiling menggunakan pestel dan mortar, selanjutnya dimasukkan masing-masing 2 gram sampel gerusan ke dalam gelas piala dan ditambahkan 100 ml air panas, kemudian didihkan selama 5 menit, serta didinginkan dalam suhu ruang. Setelah suhu tidak terlalu panas, sampel disaring dengan corong dan kapas untuk diambil filtratnya dan dan dibuang ampasnya.

Uji Saponin

            Masing-masing daun (daun singkon, gamal, kembang sepatu dan kaliandra) digerus sampai halus kemudian ditimbng kira-kira 2 gram dan dimasukkan ke dalam gelas piala atau botol selai. Air panas sebanyak 100 ml ditambahkan ke dalam gelas piala tersebut dan dididihkan selama 5 menit. Setelah itu, didinginkan pada suhu kamar. Isi gelas piala tesebut disaring dengan corong dan kapas sehingga didapatkan filtrat yang akan digunakan untuk pengujian. Sebanyak 5 ml filtrat tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan kocok selama 10 detik serta dibiarka selam 10 menit. Indikator adanya saponin ditandai dengan adanya buih yang stabil. Dilakukan hal yang sama akan tetapi menggunakan air dingin.

 

Persiapan Sampel Sabun

            Sabun cair ditimbang sebanyak 1 gram dan dilarutkan menggunakan aquadest hingga volumenya 100 ml.

 

Uji Kestabilan Busa pada Saliva Buatan dan Cairan Rumen

            Cairan filtrat dari semua sampel (sisa filtrate yang menggunakan air dingin) masing-masing  sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan saliva buatan sebanyak 5 ml kemudian dikocok selama 10 detik dan dibiarkan selama 10 menit. Ketinggian busa yang muncul diukur. Dilakukan hal yang sama tetapi saliva buatan diganti dengan cairan rumen. Dicatat hasil ketinggian busanya. Sabun colek ditimbang sebanyak 1 gram kemudian dilarutkan dengan aquadest sampai volumenya menjadi 100 ml, kemudian dilakukan pencampuran denga saliva atau cairan rumen seperti dengan cara sebelumnya yang menggunakan filtrat.

 

Uji Pengaruh Penambahan Saponin terhadap Populasi Protozoa Rumen

            Tabung hungate yang berisi gas CO2 disiapkan terlebih dahulu. Filtrate diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung hungate (jangan sampai gelembung udara ikut masuk ke dalam udara). Sebanyak 5 ml cairan rumen ditambahkan ke dalam tabung tersebut kemudian dikocok perlahan selam 10 menit. Cairan tersebut kemudian diambil sedikit dengan menggunakan spoit dan diletakkan di atas obyek gelas serta ditutup dengan cover gelas, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Dilakukan juga pengamatan untuk blanko, yaitu dengan menggunakan cairan rumen tanpa perlakuan dan ditaruh di atas gelas objek dan titutup dengan gelas penutup, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Uji Saponin

No.

Sampel

Perlakuan

Tinggi Busa (cm)

1.

Sabun

dingin

3

2.

Daun kaliandra

dingin

0

panas

0

3.

Daun kembang sepatu

dingin

0

Panas

0

4.

Daun singkong

Dingin

0.05

Panas

0.5

5.

Daun gamal

Dingin

0.5

Panas

0

 

Tabel 2. Uji Kestabilan Busa dalam Larutan Saliva Buatan  dan Cairan Rumen

No.

Sampel

Perlakuan

Larutan (cairan)

Tinggi Busa (cm)

1.

Sabun

Dingin

saliva buatan

1.2

Rumen

1.7

2.

Daun kaliandra

Dingin

saliva buatan

0.1

Rumen

0.3

Panas

saliva buatan

0.6

Rumen

0.5

3.

Daun kembang sepatu

Dingin

saliva buatan

0

Rumen

0.1

Panas

saliva buatan

0.4

Rumen

0.5

4.

Daun singkong

Dingin

saliva buatan

0

Rumen

0.05

Panas

saliva buatan

1.5

Rumen

0.1

5.

Daun gamal

Dingin

saliva buatan

0.2

Rumen

0

Panas

saliva buatan

1.5

Rumen

0

 

Tabel 3. Uji Pengaruh Saponin Terhadap Populasi Protozoa

No.

Sampel

Jumlah protozoa / ml

1.

Daun kaliandra

6 x 105

2.

Daun kembang sepatu

2 x 105

3.

Daun singkong

3 x 105

4.

Daun gamal

2 x 105

 

 

Pembahasan

            Saponin merupakan senyawa glikosida yang berfungsi sebagai detergen alami (Rao, 1996). Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin dapat ditemukan pada biji-bijian dan pada hijauan makan ternak. Pada hewan ruminansia, saponin dapat digunakan sebagai antiprotozoa karena mampu berikatan dengan kolesterol pada sel membran protozoa, sehingga menyebabkan membranolisis pada sel membran protozoa.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat diketahui data mengenai tinggi busa pada uji saponin yang tertera pada tebel 1. Tinggi busa pada sampel sabun dengan perlakuan dingin adalah 3 cm, sedangkan tinggi busa pada daun kaliandra dan daun bunga sepatu adalah 0 cm, baik itu perlakuan dingin maupun panas. Selanjutnya tinggi busa pada sempel daun singkong dengan perlakuan dingin adalah 0,05 cm, sedangkan dengan perlakuan panas sebesar 0,5 cm. Selanjutnya, tinggi busa pada sampel daun gamal dengan perlakuan dingin adalah 0,5 cm, sedangkan dengan perlakuan panas sebesar 0 cm. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa busa tertinggi dihasilkan oleh sampel sabun yaitu 3 cm, dilanjutkan oleh daun singkong dengan perlakuan panas dan sampel daun gamal dengan perlakuan dingin, yaitu setinggi 0,5 cm cm. Hal tersebut membuktikan bahwa kandungan saponin pada ketiga sampel tersebut lebih tinggi dibandingkan sampel lain, karena saponin merupakan zat deterjen dan mempunyai sifat khas yang dapat membentuk larutan koloidal dalam air dan membui bila dikocok.

Tabel 2 menampilkan tentang kestabilan busa pada sampel yang diberikan perlakuan cairan rumen dan saliva buatan, yaitu filtrat ditambahkan dengan saliva buatan  dan dibandingkan dengan filtrat yang ditambahkan dengan cairan rumen. Filtrat yang dipakai adalah filtrat setelah dipanaskan dan filtrat yang didinginkan kembali. Di samping itu, dilakukan pengamatan dengan blanko yaitu dengan cairan sabun. Hasil pengujian penambahan saliva buatan pada filtrat menunjukkan bahwa ternyata busa terbentuk tidak pada semua filtrat. Berdasarkan hasil yang diperoroleh, busa terbanyak terdapat pada filtrat sabun dengan ketinggian 1,7 cm.

Tabel 3 menampilkan tentang pengaruh saponin terhadap populasi protozoa. Daun kaliandra menghasilkan populasi protozoa sebanyak 6 x 105 / ml. Daun bunga sepatu dan daun gamal masing-masing menghasilkan 2 x 105 / ml, sedangkan daun singkong menghasilkan populasi sebanyak 3 x 105 / ml. Berdasarkan hasil tersebut, telah terbukti bahwa semakin besar kandungan saponin pada suatu bahan, maka jumlah populasi protozoanya berkurang.

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

            Keberadaan saponin dalam hijauan pakan ternak dapat diketahui dengan menggunakan pelarut air. Kestabilan busa terbentuk pada cairan rumen maupun cairan saliva buatan. Kejadiaan ini disebabkan oleh  rumen dan saliva yang berfungsi sebagai buffer. Keberadaan saponin juga sangat berpengaruh terhadap populasi protozoa rumen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arora, S.P. 1989. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University          Press. Yogyakarta.

Church, D.C. 1979. Digestive Physology and Nutrition of Ruminant. 2nd Edition. Oxford   Press, Oregon.USA

Gohl, B.O. 1981. Topical Feed, Food and Agriculture. Organitation of The United            Nation, Rome.

Karina, Tias Asri. 2011. Pengaruh Penggunaan Limbah Tape Singkong dalam Ransum       terhadap Konsentrasi Bakteri dan Protozoa Pada Cairan Rumen Domba Lokal (In             Vitro). Skripsi.

Putnam, P. A. 1991. Handbook of Animal Science.Academic Press, San Diego.

Rao AV.1996. Anticarcinogenic properties of plant Saponin. Second International Symposium on Roleof soy. Brussels, Belgium.

Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid 1. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. IPB: Bogor.

 

LAMPIRAN

 

Penghitungan jumlah populasi protozoa terhadap pengaruh saponin sebagai berikut:

Rumus :

Jumlah protozoa =

 

Keterangan:

n   =  jumlah protozoa yang terlihat dalam preparat

fp = faktor pengencer, dalam praktikum ini bernilai 2

 

  1. Daun Kaliandra

n = 6

Jumlah protozoa =

= 60000

= 6 x 105  protozoa/ml

 

  1. Daun kembang sepatu

n = 2

Jumlah protozoa =

= 20000

= 2 x 105  protozoa/ml

 

  1. Daun singkong

n = 3

Jumlah protozoa =

= 30000

= 3 x 105  protozoa/ml

 

  1. Daun gamal

n = 2

Jumlah protozoa =

= 20000

= 2 x 105  protozoa/ml