Laporan Praktikum Ke-4                                Hari/Tanggal   : Kamis, 15 Maret 2012

Integrasi Proses Nutrisi                                   Tempat            : Laboratorium Biokimia

dan Mikrobiologi Nutrisi

Nama Asisten  : Dwi Wahyu Nugraeni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MINERAL

Yusuf Jafar Rizali

D14100064

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

            Ternak membutuhkan nutrien yang lengkap dan cukup untuk menunjang segala aktifitasnya. Nutrien tersebut dapat diperoleh dari segala sesuatu yang dikonsumsinya. Nutrien yang dibutuhkan antara lain karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Ketika salah satu nutrien tidak terpenuhi, maka tubuh akan mengalami defisiensi nutrien dan akan mengakibatkan kelainan pada organ di dalamnya sehingga akan menurunkan produktifitasnya.

Mineral termasuk nutrien anorganik yang terdiri dari mineral makro dan mikro. Pembagian kategori tersebut berdasarkan jumlah mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Mineral makro dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah besar, sedangkan mineral mikro dibutuhkan oleh tubuh hanya dalam jumlah kecil.

Kandungan mineral pada pakan ternak sangat beragam, sehingga perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui dengan jelas kandungan dan jumlah mineral yang ada di dalamnya. Ketika jumlah dan kandungan mineral pada pakan ternak telah diketahui, maka kita dapat memilih pakan ternak yang cocok agar mengoptimalkan pertumbuhan dan produksinya.

 

Tujuan

            Praktikum ini bertujuan untuk mengamati beberapa mineral (Cu, Co, Fe, Zn, Mg, Cl) dan CO2, mengamati perubahan warna sampel yang diberi perlakuan, mengetahui kandungan mineral dalam sampel berdasarkan analisa kualitatif, serta mengamati peran Ca2+ dalam proses pembekuan susu atau darah.

 

 

 

 

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Mineral

            Abu yang diperoleh dari analisis proksimat suatu bahan merupakan bahan permulaan yang digunakan untuk determinasi jenis mineral yang secara umum memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: (1) sebagai komponen penting senyawa pembentuk tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan kuat; (2) mempertahankan keadaan kolodial dari beberapa senyawa di dalam tubuh; (3) memelihara keseimbangan asam dan basa di dalam tubuh; (4) sebagai aktivator sistem enzim tertentu; (5) sebagai komponen dari suatu enzim tertentu dan (6) mineral memiliki sifat yang spesifik terhadap kepekaan otot dan saraf (Tillman et al., 1991).

            Tubuh memerlukan mineral dari luar karena fungsinya yang penting untuk kelangsungan proses metabolisme. Walaupun jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit, keseimbangan dalam tubuh harus tetap terjaga. Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan ternak, mineral digolongkan dalam dua kelompok yaitu makro mineral antara lain : kalsium (Ca), fosfor (P), kalium (K), magnesium (Mg), natrium (Na), klor (Cl), sulfur (S) dan mikro mineral atau trace mineral terdiri dari: besi (Fe), cuprum (Cu), Zn, molybdenum (Mo), mangan (Mn), kobalt (Co), krom (Cr), nikel (Ni), dan yodium (I). Mineral makro dibutuhkan lebih banyak dibandingkan dengan mineral mikro. Beberapa mineral memiliki lebih dari satu fungsi (Church dan Pond, 1982).

 

Cobalt (Co)

            Cobalt memiliki fungsi untuk membentuk pembuluh darah serta pembangun B. Kobal adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Co dan nomor atom 27. Cobalt memiliki warna sedikit berkilauan, metalik, keabu-abuan dan digolongkan dalam unsur metalik. Unsur kimia cobalt tersedia di dalam banyak formulasi yang mencakup kertas perak, potongan, bedak, tangkai, dan kawat. Unsur kimia kobalt juga merupakan suatu unsur dengan sifat rapuh agak keras dan mengandung metal serta kaya sifat magnetis yang serupa setrika. Ion cobalt berperan dalam absorpsi vitamin B12 serta untuk pertumbuhan mikroba rumen (Mc.Donald, 2002).

 

Tembaga (Cu)

            Tembaga atau kuprum merupakan mineral yang sangat penting bagi semua hewan dan tumbuhan peringkat tinggi. Tembaga diangkut paling banyak dalam aliran darah oleh sejenis protein plasma yang disebut seruloplasmin. Apabila tembaga pertama kali diserap di dalam perut, ia diangkut ke hati dan terikat pada albumin. Tembaga dijumpai pada bermacam jenis enzim, termasuk sitokrom c-oksidase yang berpusatkan tembaga dan enzim superoksida dismutase (mengandungi tembaga dan zink). Di samping peranan enzimnya, tembaga juga digunakan untuk pengangkutan elektron biologi (Annekov, 1975). Unsur  Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh (Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul haemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi (Nugroho, 1986).

 

Besi (Fe)

            Besi murni cukup reaktif. Udara lembab dapat membuat besi murni mudah teroksidasi membentuk besi (III) oksida hidrat (karat). Logam ini mudah larut dala asam mineral (Cotton, 1989). Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O2 ke dalam sel-sel, Fe juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator proses-proses oksidasi (Tillman et al, 1998). Unsur Fe  diabsorpsi sesuai dengan kebutuhan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status Fe dalam tubuh, umur hewan, kebutuhan metabolik tubuh, bentuk komponen zat besi yang terdapat dalam makanan dan ada tidaknya zat-zat  nutrisi lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi (Piliang, 2002). Fe lebih banyak diabsorpsi oleh hewan yang defisien Fe dibanding hewan yang tercukupi kebutuhan Fe, karena absorpsi dan metabolisme Fe diatur oleh status Fe pada mukosa usus. Tempat absorpsi Fe pertama adalah duodenum (Underwood dan Sutlle, 1999).

Magnesium (Mg)

            Magnesium didapat dengan berbagai cara. Dua buah sumber terpenting tersedianya magnesium adalah batuan dolomit dan air laut. Reduksi MgO atau dolomit mendapatkan magnesium. Magnesium berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan terlindungi oleh lapisan tipis oksida. Magnesium mudah larut dalam asam encer (Cotton, 1989). Magnesium organik penting bagi hewan dan tumbuhan. Klorofil merupakan porifrin berpusat magnesium. Banyak enzim memerlukan kehadiran ion magnesium, terutamanya enzim yang mempergunakan ATP.

Kekurangan magnesium dapat mengakibatkan kekejangan otot, yang biasanya dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular, diabetis, tekanan darah tinggi, dan osteoporosis. Kekurangan akut zat magnesium sangat jarang berlaku. Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting. Sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka (Underwood, 1981), sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak (Tillman et al, 1998). Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk mempernaiki fungsi sistem saraf (Perry et al., 2003). Selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra, 1988).

 

Seng ( Zn )

            Jumlah Zn dalam tubuh adalah 3 mg persen. Jumlah terbanyak terdapat dalam jarigan epidermal (kulit, rambut, bulu wol) dan juga terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit dalam tulang, otot, hati, organ kelamin dan darah. Pada darah 75% dari Zn ditemukan pada sel darah merah, 22% dalam serum darah, dan sisanya 3% dalam sel darah putih (Lioyd et al., 1978). Juga terdapat dalam enzim-enzim carbonic anhidrase, uricase, phospatase dan hormon isulin. Zn juga terdapat dalam susu dan juga kolostrum dalam jumlah yang lebih besar.

Fungsi Zn esensial sebagai komponen aktivator: (1) pada beberapa enzim diantaranya kaboksi peptidase, karbonat anhidrase, laktat dehidrogenase, DNA dan RNA polimerase (Tillman et al., 1991); (2) pada beberapa hormon diantaranya insulin dan glukagon; (3) bertanggungjawab pada sintesis asam nukleat (DNA dan RNA), dan sintesis protein (Lieberman dan Bruning, 1990) serta metabolisme karbohidrat (Church dan Pond, 1982). Fungsi Zn yang tak kalah pentingnya adalah biosintes heme, keseimbangan asam dan basa dan metabolisme vitamin A (Linder, 1992).

Aktivasi Zn yang berhubungan langsung terhadap penampilan ternak salah satu diantaranya adalah karboksi peptidase dan sintesa asam nukleat (Church and Pond, 1982). Ini berarti produk-produk metabolisme tersebut dapat dimanfaatkan oleh hewan inang baik secara fungsional maupun struktural terutama dalam pertumbuhan. Dari segi fisiologis, Zn berperan untuk pertumbuhan dan pembelahan sel, antioksidan, perkembangan seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta nafsu makan (Solomon, 1993). Dari segi biokimia, Zn sebagai komponen dari 200 macam enzim berperan dalam pembentukan dan konformasi polisome, sebagai stabilisasi membran sel, sebagai ion-bebas ultra-seluler, dan berperan dalam jalur metabolisme tubuh (Soegih, 1992).

 

Kandungan mineral Klor (Cl) pada Tepung Ikan

            Tepung ikan dapat berasal dari ikan jenis kecil maupun jenis besar atau limbah/sisa bagian-bagian ikan yang tidak diikutsertakan dalam pengalengan. Kendala yang sering dijumpai adalah bahwa kadar lemak yang tinggi dari tepung ikan karena bahan baku awal tinggi lemak atau dalam proses pengolahan tidak dilakukan pembuangan lemaknya. Tepung ikan yang baik bila kadar lemak 10% dan tidak asin. Rasa asin ini terjadi karena penambahan NaCl sebagai pengawet sering ditambahkan pada bahan baku ikan yang kurang segar. Tepung ikan yang ada di Indonesia dibedakan antara impor dan lokal. Sementara ini tepung impor dianggap lebih baik karena protein kasar lebih dari 60% dan kadar lemak rendah, sedangkan tepung ikan lokal dengan konversi randemen 20% dari bahan baku hanya mempunyai kadar protein kasar 55-58% dan termasuk grade C. pemakaian tepung ikan untuk ransum unggas berkisar 10-15% dengan syarat sumbangan lemak ransum dari tepung ikan maksimal 1% (Cockerell et al., 1997).

 

Karbon dioksida (CO2)

            Karbon dioksida adalah hasil metabolisme dalam organisme yang mendapat tenaga dari penguraian gula atau lemak dengan oksigen sebagai sebagian metabolisme mereka, dalam proses yang dikenal dengan pernafasan selular. Ini termasuk pada semua tumbuhan, hewan, kebanyakan fungi dan sebagian bakterium. Karbon dioksida diangkut melalui darah (di mana banyak berada dalam larutan).

Kandungan karbon dioksida dalam udara segar adalah kurang daripada 1% (sekitar 350 ppm), dalam udara dihembus keluar sekitar 4.5% (Cotton, 1989). Hemoglobin, molekul utama dalam sel darah merah, dapat mengikat oksigen dan karbon dioksida. Jika kepekatan CO2 terlalu tinggi, semua hemoglobin dipenuhi karbon dioksida dan tidak ada pengangkutan oksigen (walaupun terdapat banyak oksigen dalam udara). Akibatnya, orang yang berada dalam tempat tertutup akan mengalami perasaan sukar bernafas akibat pengumpulan karbon dioksida.

 

Kalsium (Ca) dan Kandungannya pada Susu Murni dan Sari Kedelai

            Ketika kalsium sendiri diperlukan, batu kapur atau cangkang kerang giling biasanya digunakan. Suplemen kalsium yang lain antara lain tepung tulang, kalsium gluconate, kalsium laktat, dikalsium phosphat dan dolomit. Kebutuhan suplementasi tergantung pada kualitas ransum. Kalsium juga dapat berperan dalam proses pembekuan darah. Mekanisme pembekuan darah adalah pertama-tama trombosit pecah, tromboplastin/ Faktor antihemofili trombokinase, kemudian protrombin aktif menjadi thrombin dengan bantuan Ca++ dan Vit.K, selanjutnya fibrinogen menjadi benang-benang fibrin (LIPI, 2009).

Segelas susu murni (250ml) memenuhi 20% kalsium, sedangkan kandungan kalsium susu kedelai murni hanya sekitar 150 mg per gelas, yang hanya sekitar seperempat dari kalsium yang dikandung susu sapi murni (Johanes, 2009).

 

Peran Mineral pada Ternak

            Mineral sangat penting untuk kelangsungan hidup ternak. Hampir semua mineral ditemukan dalam jaringan ternak dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam proses metabolisme ternak. Metabolisme dan interrelationship diantara mineral sangat bervariasi dan kompleks. Suatu kelebihan atau kekurangan mineral tertentu dapat menyebabkan kekurangan atau kelebihan dari mineral lain.

Mineral dibutuhkan ternak untuk berbagai fungsi, seperti pembentukan tulang dan gigi, pembekuan protein darah atau susu, bagian dari enzim dan protein, regulasi asam basa dan tekanan osmosis cairan di dalam tubuh, permeabilitas membran, kontrol replikasi dan diferensiasi sel, dan lain sebagainya.

Komposisi mineral pakan bervariasi tidak hanya karena perbedaan tanaman dan spesies tetapi juga antar tanaman yang sama dengan varietas yang berbeda. Leguminosa dan butir-butiran umumnya mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) lebih banyak dibanding tanaman lain. Banyak perubahan komposisi mineral terjadi dalam masa pertumbuhan tanaman. Perbedaan lingkungan juga sangat mempengaruhi kandungan mineral tanaman seperti jenis dan kondisi tanah, pengaruh pemupukan, komposit tanaman yang di tanam, serta cuaca dan iklim. Kebutuhan mineral pada ternak sangat bervariasi tergantung pada umur ternak, ukuran ternak, jenis kelamin, tipe produksi dan fase produksinya (McDowell, 1992).

 

Defisiensi dan Kelebihan Mineral

            Jika mineral yang dikonsumsi kurang atau berlebih dari yang dibutuhkan akan menyebabkan efek negatif pada ternak. Kejadian defisiensi beberapa mineral makro dan mikro pada ternak serta efek negatif diantaranya adalah sebagai berikut. Pada mineral makro: Ca (Osteoporosis (rickets), osteomalacia, kerabang telur tipis, mengganggu proses pembekuan darah, milk fever, produksi susu menurun), P (Rickets, osteomalacia, pertumbuhan terhambat, napsu makan menurun, fertilitas jelek), K (Menurunkan napsu makan, pertumbuhan terhambat, otot lemah, paralysis, acidosis intraseluler, degenerasi organ vital, kelainan syaraf), Na (Dehidrasi, pertumbuhan jelek, produksi telur rendah), Cl (Alkalosis), Mg (Iritabilitas syaraf, convulsion, hypomagnesaemia), S (Pertumbuhan lambat, produksi susu menurun, efisiensi penggunaan pakan menurun) (McDowell, 1992).

Sedangkan pada mineral mikro: Mn (Abnormalitas kerangka, ataxia, perosis, star-gazing pada anak ayam, birahi terlambat (pada sapi perah), kemampuan bunting rendah pada sapi perah), Zn (Pertumbuhan bulu jelek, pertumbuhan terhambat, napsu makan menurun, dermatitis kaki, spermatogenesis dan produksi testosteron terhambat), Fe (Anemia), I (Gondok, rambut rontok), Cu (Diare, napsu makan menurun, pertumbuhan menurun, rambut kasar dan kekurangan pigmen, mengganggu fungsi fermentasi rumen, menghambat formasi tulang), Co (Anemia, napsu makan menurun, produksi susu menurun, rambut kasar), F (Napsu makan menurun, pembesaran tulang), Se (White muscle disease, plasenta tertinggal, gejala mastitis), Mo (Diare, kehilangan bobot badan), Cr (Terganggungnya fungsi pankreas dalam memproduksi insulin, produksi susu menurun) (McDowell, 1992).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI DAN METODE

 

Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi, gelas arloji, spoit, spot plate, potongan kertas saring, sendok plastik kecil, corong, dan tissue. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah aquadest, larutan A: garam Rochele (20 gr garam Rochele + 100 ml aquadest), Larutan B: garam Nitroso-R-salt (1 gr garam Nitroso-R-salt + 500 ml aquadest),  larutan C (larutan KOH 1 N), larutan D: Iodium (12,7 gr I + 40 gr KI + 25 ml aquadest, dan diencerkan sampai 100 ml), larutan E (NaOH 2 N), larutan F: dithizone (0,1 gr Dithizone + 100 ml CCl4), larutan G (AgNO3 5%), larutan H (HNO3 2 N), larutan I (HCl), tepung ikan, larutan kapur 5%, sampel susu, sari kedelai, larutan Ca(OH)2, sampel CuSO4, CoSO4, FeSO4, MgSO4, ZnSO4, CaCO3, NaCl, NaHCO3, Fe2+, CoCl2, MgO, sampel A, sampel B, Zn murni, dan Zn teknis.

 

Prosedur

Pengujian Co2+, Cu2+, Fe2+

            Sebanyak 1-2 tetes larutan A diteteskan di atas kertas saring, lalu ditambahkan sampel secukupnya (sampel standar CuSO4, CoSO4, dan FeSO4). Setelah itu, ditambahkan larutan B sebanyak 1-2 tetes. Diamati warna sampel awal dan keadaan akhir setelah ditetesi pereaksi.

Pengujian Mg

            Sebanyak 2-3 tetes larutan C diteteskan ke spot plate yang telah berisi sampel MgSO4, lalu ditambahkan larutan D hingga berubah warna menjadi kuning.

Pengujian CO2

            Sampel CaCO3 diletakkan di atas gelas arloji secukupnya, lalu ditambahkan sebanyak 1-2 tetes larutan HCl dengan perbandingan 1:1. Diamati adanya gelembung gas yang terjadi.

Pengujian Ca

            Sampel susu fullcream, susu skim dan sari kedelai dimasukan kedalam 6 buah tabung reaksi yang berbeda. Tambahkan larutan kapur sebanyak 2,4,6,8,10 tetes kedalam masing-masing tabung. Amati perubahan yang terjadi sebellum dan sesudah penambahan larutan kapur.

Pengujian Cl

            Sampel NaCl dilarutkan dengan air aquades di tabung reaksi. Kemudian, ditambahkan 1-2 tetes HNO3. setelah itu, ditambah lagi dengan larutan AgNO3 5% sebanyak 1-2 tetes. Pada reaksi tersebut diamati adanya endapan yang terbentuk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pembahasan

            Mineral merupakan salah satu nutrien yang sangat penting untuk menunjang aktifitas dan kelangsungan hidup ternak. Setiap mineral mempunyai fungsi yang berbeda di dalam proses metabolisme tubuh. Kekurangan atau kelebihan suatu mineral tertentu dapat mengakibatkan defisiensi mineral yang lainnya. Fungsi mineral di dalam tubuh ternak antara lain: pembentukan tulang dan gigi, pembekuan protein darah atau susu, bagian dari enzim dan protein, regulasi asam basa dan tekanan osmosis cairan di dalam tubuh, permeabilitas membran, kontrol replikasi dan diferensiasi sel, dan lain sebagainya.

Cobalt memiliki fungsi untuk membentuk pembuluh darah serta pembangun B. Kobal adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Co dan nomor atom 27. Cobalt memiliki warna sedikit berkilauan, metalik, keabu-abuan dan digolongkan dalam unsur metalik. Unsur kimia cobalt tersedia di dalam banyak formulasi yang mencakup kertas perak, potongan, bedak, tangkai, dan kawat. Unsur kimia kobalt juga merupakan suatu unsur dengan sifat rapuh agak keras dan mengandung metal serta kaya sifat magnetis yang serupa setrika. Ion cobalt berperan dalam absorpsi vitamin B12 serta untuk pertumbuhan mikroba rumen (Mc.Donald, 2002).

Tembaga merupakan mineral yang sangat penting bagi semua hewan dan tumbuhan peringkat tinggi. Tembaga diangkut paling banyak dalam aliran darah oleh sejenis protein plasma yang disebut seruloplasmin. Apabila tembaga pertama kali diserap di dalam perut, ia diangkut ke hati dan terikat pada albumin. Tembaga dijumpai pada bermacam jenis enzim, termasuk sitokrom c-oksidase yang berpusatkan tembaga dan enzim superoksida dismutase (mengandungi tembaga dan zink). Di samping peranan enzimnya, tembaga juga digunakan untuk pengangkutan elektron biologi (Annekov, 1975). Unsur  Cu diabsorpsi kurang baik oleh ruminansia dalam metabolisme tubuh (Kardaya, 2000). Meskipun Cu bukan merupakan bagian dari molekul haemoglobin, akan tetapi Cu ini adalah komponen yang sangat penting untuk pembentukkan sel darah merah dan menjaga aktivitasnya dalam sirkulasi (Nugroho, 1986).

Besi murni cukup reaktif. Udara lembab dapat membuat besi murni mudah teroksidasi membentuk besi (III) oksida hidrat (karat). Logam ini mudah larut dala asam mineral (Cotton, 1989). Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O2 ke dalam sel-sel, Fe juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator proses-proses oksidasi (Tillman et al, 1998).

            Magnesium organik penting bagi hewan dan tumbuhan. Klorofil merupakan porifrin berpusat magnesium. Banyak enzim memerlukan kehadiran ion magnesium, terutamanya enzim yang mempergunakan ATP. Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk mempernaiki fungsi sistem saraf (Perry et al., 2003). Selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra, 1988).

            Jumlah Zn dalam tubuh adalah 3 mg persen. Jumlah terbanyak terdapat dalam jarigan epidermal (kulit, rambut, bulu wol) dan juga terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit dalam tulang, otot, hati, organ kelamin dan darah. Fungsi Zn esensial sebagai komponen aktivator: (1) pada beberapa enzim diantaranya kaboksi peptidase, karbonat anhidrase, laktat dehidrogenase, DNA dan RNA polimerase (Tillman et al., 1991); (2) pada beberapa hormon diantaranya insulin dan glukagon; (3) bertanggungjawab pada sintesis asam nukleat (DNA dan RNA), dan sintesis protein (Lieberman dan Bruning, 1990) serta metabolisme karbohidrat (Church dan Pond, 1982). Fungsi Zn yang tak kalah pentingnya adalah biosintes heme, keseimbangan asam dan basa dan metabolisme vitamin A (Linder, 1992).

Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh, dapat diketahui bahwa

 

Berdasarkan hasil yang diperoleh, uji mineral pada tepung ikan dinyatakan positif mengandung Fe dan Zn. Jenis pakan mix dinyatakan postif mengandung Cu dan Zn. Pada pakan (kosentrat) domba dinyatakan positif mengandung Fe dan Zn. Sedangkan pada uji peran Ca dalam pembekuan susu lebih cepat terjadi pada susu full cream, lalu pada susu skim, dan susu kedelai. Dilihat dari proses penyerapan vitamin D terhadap Ca, dengan kelarutan vitamin D terhadap lemak yang menyebabkan pengendapan atau pembekuan pada susu full cream lebih cepat terjadi. Pada susu skim, lemak yang terkandung sudah sangat sedikit sehingga kandungan Ca didalamnya pun dipastikan sudah mulai berkurang, sehingga pengendapannya punkurang cepat.

Ca berperan penting dalam proses pembekuan darah atau susu. Mekanisme pembekuan darah adalah pertama-tama trombosit pecah, tromboplastin/ Faktor antihemofili trombokinase, kemudian protrombin aktif menjadi thrombin dengan bantuan Ca++ dan Vit.K, selanjutnya fibrinogen menjadi benang-benang fibrin (LIPI, 2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Hasil percobaan telah membuktikan bahwa sampel yang diuji mengalami perubahan warna sesuai dengan mineral yang terkandung di dalamnya. Mineral Cu, Co, dan Fe memiliki warna hijau kecoklatan, Mg memiliki warna agak coklat, Cl terdapat endapan putih, dan CO2 memiliki banyak gelembung udara. Berdasarkan warna tersebut, praktikan dapat mengetahui kandungan mineral pada beberapa sampel yang diuji.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Annekov, B. N. 1974. Mineral Feeding of Sheep in Mineral Nutrition of Animal Studies in the Agric. and Food Sci. Butterworths, London-Toronto. p. 321-354.

Church, D. C. and W. G. Pond. 1982. Basic Animal Nutrition and Feeding. 2nd ed. John Wiley and Son: New York – Singapore.

Cockerell, I.D. Haliday and D.J. Morgan. 1997. Quality Control in the Animal Feedstuff Manufacturing Industry. Tropical Product Institute: London.

Cotton F. Albert dan Wilkinson Geoffrey. 1989. Kimia Organik Dasar. Terjemahan: Sahati Suharto. Universitas Indonesia Press: Jakarta.

Girindra, A. 1998. Biokimia Patologi Hewan. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor Press: Bogor.

Johanes C, Chandrawinata. 2009. Asupan Nutrisi Untuk Vegetarian. Dalam Kompas Online. (terhubung berkala)http://www.vegetarian-guide.com/susu-kacang-kedelai(18 Maret 2012).

Kardaya, D. 2000. Pengaruh suplementasi mineral organik (Zn-Proteinat, Cu-Proteinat) dan amonium molibdat terhadap performans domba lokal. Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Lieberman, S and N. Bruning. 1990. The Real Vitamin and Mineral Book. A Very Publishing Group Inc. Garden City Park: New York.

Linder, M. C. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Karbohidrat (Terjemahan). Linder (ed) Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Universitas Indonesia Press: Jakarta.

Lioyd, L. E., B. E. McDonald, and E. W. Crampton. 1978. Fundamentals of Nutrition 2nd Ed. W. H. Freeman & Co: San Fransisco.

McDonald, P., RA Edwards, Greenhalgh J.F.D, and CA Morgan. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Prentice Hall: London.

McDowell, LR. 1992. Minerals in Animal and Human Nutrition. Academic Press, Inc: New York.

Nugroho. 1986. Penyakit Kekurangan Mineral pada Sapi. Eka Offset: Semarang.

Perry, T. W., A. E. Cullison and R.S. Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition. Pearson Education, Inc.: Upper Saddle River, New Jersey.

Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Mineral (Edisi Kelima). Institut Pertanian Bogor Press: Bogor.

Soegih, R. 1992. Peranan mineral khususnya elemen renik terhadap kesehatan. Seminar Sehari Pengaruh Mineral Terhadap Kesehatan: Jakarta.

Solomon , N.W. 1993. Zinc. Encyclopedia of Food Science, Food Technology and Nutrition. Vol 7. London. 49 : 80-94.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukujo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar (Cetakan Ke- 6). Gajah Mada Universitty Press: Fakultas Peternakan, UGM, Yogyakarta.

Underwood, E. J. 1981. The Mineral Nutrition of Livestock. Second Edition. Commonweath Agricultural Bureaux: London.

Underwood, E. J. and N. F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock. Third Edition. CABI Publishing: London.

[UPT Balai informasi teknologi LIPI]. 2009. Pembentukan Darah. (terhubung berkala)http://www.searchpdf.com(18 Maret 2012).