Laporan Praktikum Ke-9                    Hari/Tanggal               : Kamis, 3 Mei 2012

Integrasi Proses Nutrisi                       Tempat Praktikum       : Laboratorium Biokimia

dan Mikrobiologi Nutrisi

Nama Asisten              : Febynia Mutiara Z.

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMAK DAN SPEKTROFOTOMETRI

Yusuf Jafar Rizali

D14100064

 

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

            Minyak dan lemak adalah senyawa kimia yang banyak terdapat di alam. Minyak umumnya berwujud cair pada suhu ruang sedangkan lemak cenderung berwujud padat pada suhu ruang. Asam-asam lemak merupakan komponen penyusun minyak dan lemak, dan asam lemak ini merupakan senyawa rantai karbon. Dalam rantai karbon asam lemak tersebut, terdapat ikatan antar karbon yang berjenis tunggal maupun rangkap. Ikatan jenis tunggal pada rantai karbon memiliki kestabilan oksidatif yang lebih baik dibandingkan ikatan rangkap. Sebaliknya, ikatan rangkap memberikan sifat minyak yang cair pada suhu ruang. Jenis ikatan yang ada dalam asam lemak akan berpengaruh terhadap jenis aplikasi yang cocok digunakan terhadapnya. Secara keseluruhan, susunan trigliserida minyak dan  lemak mempunyai kesamaan pada gliserol, maka perbedaan sifat-sifat minyak dan lemak dilihat pada komponen asam lemaknya.

Lemak merupakan sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak yang beredar di dalam tubuh diperoleh dari dua sumber yaitu dari makanan dan hasil produksi organ hati, yang bisa disimpan di dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi. Fungsi lemak adalah sebagai sumber energi, pelindung organ tubuh, pembentukan sel, sumber asam lemak esensial, alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas, dan memelihara suhu tubuh. Sehubungan dengan hal tersebut  maka sangat penting didalam menguji derajat kelarutan lemak sehingga dalam penggunaannya, lemak dapat berfungsi secara optimal.

 

Tujuan

            Praktikum lemak bertujuan untuk mempelajari derajat kelarutan lemak nabati dan hewani di dalam berbagai jenis pelarut organik, sedangkan praktikum spektrofotometer bertujuan untuk menentukan kadar protein berdasarkan reaksi ninhidrin.

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Minyak dan Lemak

            Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut (Hart, 1983).

Kirshman dan Pomeroy (1949) in Klein (1971) mengatakan bahwa minyak sebagai komponen cair yang relative non-volatil. Minyak dapat diperoleh dari bahan yang mengandung minyak dengan cara pengepresan, dengan cara ekstraksi mengunakan berbagai zat pelarut yang mudah menguap (Ketaren, 1986).

Johnson dan Davenport (1971) mendefinisikan lemak sebagai suatu kelompok bahan yang secara umum larut dalam ether, chloroform atau pelarut yang lainnya. Minyak dan lemak mempunyai sifat tidak larut dalam air, hidrophobik dan terdapat pada tumbuhan hewan darat dan laut dan biasa disebut trigliserides (Marley, 1968 in Sonntag, 1979).

 

Protein Susu

            Kandungan protein dalam susu sekitar 3,4%. Protein susu terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu casein yang dapat diendapkan oleh asam dan enzim rennin dan protein whey yang dapat mengalami denaturasi oleh panas. Casein merupakan protein utama susu yang jumlahnya mencapai 80% total protein susu. Pengasaman susu dapat mengendapkan casein. Bila terdapat cukup asam akan terjadi pengendapan disertai dengan melarutnya garam-garam kalsium dan fosfor yang semula terikat pada protein (Buckle et al., 1987).

 

 

 

Spektrofotometri

            Alat yang digunakan untuk mengukur panjang gelombang absorpsi suatu larutan atau suatu molekul dalam larutan yaitu spektrofotometer. Absorbsi cahaya suatu molekul merupakan suatu bentuk interaksi antara gelombang cahaya (foton) dan molekul. Energi cahaya diserap oleh molekul dan digunaka oleh elektron di dalam molekul tersebut untuk bertransisi ke tingka eneri elektroik (E) yang lebih tiggi (Sentra Biosains Dinamika, 2001). Macam-macam spektrofotometer diantaranya spektrofotometer ultraungu (UV), sinar tampak, dan inframerah yang dibuat atas dasar yang sama. Sebuah sumber cahaya menghasilkan cahaya dari bagian spektrum elektromagnetik dar spektrofotometer dengan panjang gelombang tertentu, tergantung pada strukturnya.

 

Gambar 1. Proses absorbsi cahaya dari spektrofotometer menembus cairan sampel

 

Pada spektrofotometer sinar tampak, molekul senyawa yang dianalisis tidak akan mengabsorbsi cahaya. Oleh karena itu, senyawa tersebut harus diikat untk suatu senyawa kimia sehingga menghasilkan warna senyawa berwarna tersebut akan mengabsorbsi cahaya pada rantai panjang gelombang yang terbatas (Wilson dan Warker 2000). Metode  pengukuran ini disebut sebagai dasar dari kolorimeri. Pelarut spektrofotometri yang dapat digunakan adalah semua cairan tertentu yang dapat diperoleh dalam bentuk mrni dalam daerah ukur 220 nm-800 nm serta yang tidak atau hanya sedikit meμnunjkkan absorbsi sendiri dan dapat melarutkan degan mudah senyawa yag hendak dianalisis. Letak maksimum absorbsi tergantung pada pelarut yang digunakan dan akan bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih panjang dengan bertambahnya polaritas pelarut.

 

 

Minyak Sawit

            Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya adalah merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen penyusunnya yang utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (Nurhida Pasaribu, 2004). Minyak sawit adalah fraksi cair berwarna kuning kemerahan yang diperoleh dengan cara fraksinasi minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil) dan telah mengalami proses pemurnian (Ketaren, 1986). Muchtadi (1996) menyatakan bahwa munyak sawit sebagai salah satu jenis minyak nabati tidak mengandung kolesterol, pada saat proses pemurnian CPO menjadi minyak sawit kolesterol yang dimiliki CPO mengalami degradasi. Sterol yang dimiliki minyak sawit adalah fitosterol yang sebenarnya akan dapat menurunkan LDL (Low Density Lipoprotein) dan meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein).

Minyak sawit merupakan sumber minyak nabati yang penting disamping minyak kelapa, kacang-kacangan, jagung dan sebagainya (Tim Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 1996). Minyak kelapa sawit memiliki kadar air 0,25%  (Hardja, 2001).

 

Minyak Kedelai

            Kandungan minyak dan komposisi asam lemak dalam kedelai dipengaruhi oleh varietas dan keadaan iklim tempat tumbuh. Lemak kasar terdiri dari trigliserida sebesar 90-95 persen, sedangkan sisanya adalah fosfatida, asam lemak bebas, sterol dan tokoferol. Minyak kedelai mempunyai kadar asam lemak jenuh sekitar 15% sehingga sangat baik sebagai pengganti lemak dan minyak yang memiliki kadar asam lemak jenuh yang tinggi seperti mentega dan lemak babi. Hal ini berarti minyak kedelai sama seperti minyak nabati lainnya yang bebas kolestrol (Admin, 2011). Titik cair yang dimiliki minyak kedelai sangat tinggi, yaitu sekitar -16oC dan biasanya berbentuk padat (solid) pada ruang yang mempunyai suhu tinggi. Hal ini berarti minyak kedelai dapat digunakan untuk biodiesel dan bahan bakar pada musim panas (summer fuel) ( Al Arif, 2011).

Hampir 90 persen dari produksi minyak kedelai digunakan di bidang pangan dan dalam bentuk telah dihidrogenasi, karena minyak kedelaimengandung lebih kurang 85 persen asam lemak tidak jenuh ( Al Arif, 2011).

 

Minyak Kelapa

            Minyak kelapa adalah minyak yang dihasilkan dari daging kelapa segar yang berasal dari kelapa matang, yang diproses secara mekanis senatural mungkin sehinga tidak membuat minyak yang dihasilkan berubah. Menurut Codex Stan 19-1981 (rev. 2-1999), VCO mempunyai kadar air 0,1-0,5%, bilangan asam maksimal 13 mg KOH/g contoh, kadar asam lemak bebas maksimal 0,5% asam laurat, berwarna jernih kristal air, serta bebas dari bau dan rasa asing (tengik). VCO dapat merangsang metabolisme. Komponen minyak kelapa ini terdiri dari asam lemak jenuh (90%) dan asam lemak tak jenuh (10%). Asam lemak jenuh berantai pendek pada VCO berperan positif dalam proses pembakaran nutrisi makanan menjadi energi (Fife, 2004).

Minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh cenderung untuk mengalami oksidasi sedangkan yang mengandung lebih banyak asam lemak jenuh mudah terhidrolisis. Pembentukkan peroksida dipercepat oleh adanya cahaya, suasana asam, kelembapan udara, dan katalis (Widiyanti, 1995).

 

Lemak Ayam

            Lemak hewan dicirikan dengan relatif tingginya kandungan kolesterol dan mengandung sedikit asam lemak tidak jenuh, lemak hewan merupakan salah satu potensi yaitu menyebabkan timbulnya penyakit. Tingginya konsumsi daging dan produk olahan daging dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit pada sistem sirkulasi darah. Lemak tubuh pada ayam broiler biasanya ditimbun dalam tiga bagian yaitu rongga abdomen terutama sekeliling tembolok yaitu beratnya sekitar 2%-2,5% dari bobot karkas bahkan dapat mencapai 5-6%, kedua pada kulit terutama pada pangkal bulu dan bagian belakang dekat pangkal ekor sehingga berat lemaknya dapat mencapai 12-20% dari berat karkas dan ketiga, pada organ tubuh lain (Natawihardja, 1981). Prosentase lemak abdomen pada ayam jantan berkisar antara 1,4-2,6% dari berat hidup, sedangkan untuk ayam betina antara 3,2-4,8% (Leeson dan Summer, 1980).

 

 

 

Lemak Sapi

            Letak perlemakan pada ruminansia berbeda dengan lemak pada unggas. Ternak ruminansia yang masihmuda mempunyai kemampuan untuk mengkonversi gula menjadi asam-asam lemak, namun ketika rumen mulai berfungsi, kemampuan itu hilang dan asetat menjadi sumber karbon utama yang digunakan untuk mensintesis asam-asam lemak. Asetat akan berdifusi masuk ke dalam darah dari rumen dan dikonversi di jaringan menjadi asetil Co-A, dengan energi berasal dari hidrolisis ATP menjadi AMP. Jalur ini terjadi di tempat penyimpanan lemak tubuh yaitu jaringan adiposa (di bawah kulit, jantung dan ginjal). Hal tersebut juga yang terjadi di monogastrik (Despal et al., 2007).

 

Lemak Jagung

            Butir jagung mempunyai kadar minyak rata rata 3 %, tetapi jika diambil lembaganya saja, maka kadar minyak dalam lembaga itu rata rata antara 22 – 28%. Minyak jagung adalah ester dari glyserol dengan asam lemak, dimana semua radikal (OH) dari glyserol sudah di esterifikasi, karenanya disebut : Tri Glyserida Ester. Minyak jagung merupakan minyak yang kaya akan poly unsaturated fat, yaitu lemak tak jenuh yang justru aktif menurunkan kadar cholesterol dalam darah. Cholesterol adalah sterol yang terdapat dalam fat, dan bersifat dapat membuat kerak dalam pembuluh darah, sehingga akan terjadi penyempitan dalam pembuluh darah tersebut akibatnya orang yang terkena akan menderita penyakit tekanan darah tinggi. Rumus molekul Cholesterol : C27 H46 O yang umumnya banyak terdapat dalam lemak hewan (Tedy, 2011).

 

Alkohol

            Alkohol dapat mengeliminasi bakteri dengan mengkoagulasi protein. Alkohol mempunyai sifat mudah menguap. Alkohol menghilangkan lapisan lemak dan sebum kulit yang merupakan pelindung alami kulit terhadap infeksi bakteri (Lay dan Hastowo, 1992).

 

 

NaOH

            NaOH disebut juga kaustik soda dengan sifat dapat membirukan lakmus merah. Larutannya dalam air menghasilkan ion yang bermuatan positif dan ion hidroksil yang bermuatan negatif. NaOH biasa digunakan sebagai pelarut. NaOH berguna untuk menetralkan asam, bahan baku pembuatan sabun, detergen, serat rayon, serta pemisah belerang dari minyak bumi. NaOH dari elektrolisis larutan NaCl merupakan basa kuat. NaOH sangat reaktif dalam bereaksi dengan larutan asam. (Fauzan, 2001).

 

Larutan Deterjen Cair

            Detergen termasuk salah satu kebutuhan yang dapat diusahakan sendiri dalam pembuatannya. Detergen cair mempunyai mutu atau kualitas yang dapat bersaing dengan detergen yang sudah ada saat ini, yaitu detergen bubuk. Metode pembuatan deterjen cair adalah mencampur 10 % SLS – DG, 20 % soda abu, CMC lokal 5 %, pewarna secukupnya dan air 64.5% ke dalam reactor, memanaskan campuran bahan diatas kemudian diaduk, setelah tercampur homogen api dimatikan, lalu didinginkan, setelah dingin ditambah parfum sebanyak 1 %, mengalirkan larutan ke bak filter, mengalirkan larutan ke bak penampung. Dari pembuatan deterjen cair yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu proses pembuatan deterjen cair itu mudah, Harganya murah dan lebih hemat dibandingkan dengan deterjen bubuk. Karakteristik deterjen cair adalah sebagai berikut yaitu Larutan agak kental, Jika belum digunakan tidak berbusa, jika digunakan busanya sedikit. Warnanya bening putih keruh jika tidak ditambahkan pewarna (Danang setiawan, M. Sidik, Farihah Isnayanti, M. Risal Al amin, Afif Ependi, 2008).

 

Asam Asetat

            Asam asetat dikenal dengan sebutan asam cuka. Asam asetat berbentuk larutan yang berwarna putih bening. Konsentrasi asam asetat murni adalah 96% (Kurniawan, 1991). Asam asetat termasuk asam organik lemah berupa cairan tak berwarna dan berbau sangit. Ikatan hidrogen dalam asam asetat mampu mencegah ikatan H20 (Cuningham,1976). Asam asetat adalah zat pengatur keasaman pada produk pangan (BSN, 1995). Penambahan asam asetat memiliki tujuan untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman, kebasaan, serta memantapkan bentuk dan rupa dari produk pangan (Winarno, 1982).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI DAN METODE

 

Materi

            Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi beserta rak, spektrofotometer, dan  spoit. Sedangkan bahan  yang digunakan adalah VCO, minyak canola, lemak rusa , minyak kedelai, lemak ayam, minyak sawit, lemak daging, minyak ikan, minyak zaitun, asam asetat, kloroform, alkohol, campuran alkohol, NaOH, aquadest, larutan SDS, deterjen, sabun colek, larutan standar casein 10 mg/ml, susu skim, dan susu dancow.

Prosedur

Uji Lemak

            Disediakan 11 jenis pelarut, kemudian 11 pelarut tersebut dimasukkan ke dalam 11 tabung reaksi yang telah disediakan masing-masing sebanyak 1 ml. Lalu dimasukkan sebanyak 1 ml sampel (minyak atau lemak) ke dalam tabung reaksi yang telah berisi pelarut. Tabung yang telah berisi campuran dikocok 10x. Setelah itu, diamati kelarutan 11 jenis lemak tersebut.

 

Penggunaan Spektrofotometer dalam penentuan kadar protein

Pembuatan larutan standar

Deret standar dibuat dengan cara memipet larutan standar casein sebanyak 0 ml, 2 ml, 4 ml, 6 ml, 8 ml, dan 10 ml ke dalam 6 buah tabung reaksi, kemudian dengan menggunakan aquadest volumenya dijadikan 10 ml. Masing- masing tabung dikocok sampai homogen. Sebanyak 5 ml dari masing-masing tabung dipipet ke dalam tabung reaksi yang lain. Masing-masing ditambahkan sebanyak 4 ml larutan biuret 0,1%, Tabung reaksi didiamkan pada suhu ruang selama 30 menit. Serapan dibaca pada lamda 540 nm.

 

Pengujian sampel kuantitatif

Sebanyak 2,5 ml sampel susu murni dipipet ke dalam tabu takar 100 ml dan ditambahkan aquadest sampai tanda tera, selanjutnya dikocok hingga homogen. Larutan sampel dipipet sebanayk 10 ml ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 4 ml larutan biuret, didiamkan pada suhu ruang selama 30 menit, dan serapannya dibaca pada ( 540 nm. Kadar protein sampel ditentukan dengan cara menggunakan hukum Lambert beer.

 

Pengujian sampel secara kuantitatif (Prosedur 1)

Sebanyak 1 ml larutan sampel protein (susu skim, susu murni, sari kedelai) dimasukan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 2 ml larutan NaOH 2N. Selanjutnya 2 tetes larutan CuSO4 1 % ditambahkan melalui dinding tabung, dan dicampur hingga homogen. Semua prosedur ini dilakukan pada setiap sampel protein, selanjutnya warna cincin diamati, apakah berwarna merah jambu atau violet.

 

Pengujian sampel secara kualitatif (Prosedur 2)

Sedikit contoh dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 1 ml larutan NaOH 5 % dan 3 ml larutan alkohl 95 %. Air yang mendidih disiapkan untuk memanaskan larutan tersebut selama 1,5 menit. Selanjutnya larutan yang terbentuk dipisahkan menggunakan kertas saring, dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi lainnya. Setelah itu didinginkan pada suhu ruangan, dan setelah cukup dingin ditambahkan 1 ml larutan NaOH 40 % dan 2 tetes larutan CuSO4 melalui dinding tabung reaksi. Warna violet yang terbentuk pada lapisan alkohol diamati, dan jika belum terbentuk lapisan ditambahlan larutan NaOH lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Hasil

            Berdasarkan percobaan yang dilakukan, telah diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 1 Kelarutan Lemak dengan beberapa perlakuan

Jenis Lemak

Pelarut

 

Alkohol

Detergen

Sabun Colek

Asam Asetat

Aquades

SDS

NaOH

Hexan

Alkohol 1 :NaOH

Lemak Sapi

+++

++

++

+++

+++

++

+++

++

+++

Lemak Ayam

+

++

_

_

_

_

+++

+

Minyak Kelapa

++

++

++

_

_

++

_

+++

+

Minyak Kedelai

+

++

++

_

_

++

_

+++

+

Minyak Sawit

+

+++

+++

_

_

+++

+

+++

++

Minyak Dedak Padi

+

+++

+++

_

_

+++

+

+++

++

Minyak Jagung

+

++

+++

_

_

+++

_

+++

+++

Keterangan      :

(-)        : tidak larut

(+)       : sedikit larut

(++)     : larut

(+++)   : sangat larut

 

Tabel 2 Uji Sampel Kualitatif

Sampel Larut dalam Air Tidak larut dalam air
Susu Murni   ü
Susu Skim   ü
Sari Kedelai ü  

 

Uji Sampel Kualitatif ( Prosedur 1)

Susu Skim       : +

Susu Murni      : +

Sari Kedelai    : +

Air                   : –

Keterangan      :

(-)        : tidak ada protein

(+)       : ada protein

Uji protein menggunakan spektrofotometer

0 ml (blanko)   : 0,1345

2 ml                 : 0,020

4 ml                 : 0,002

6 ml                 : 0,022

8 ml                 : 0,048

10 ml               :  0,071

Susu skim        : 0,429

 

Pembahasan

            Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut (Hart, 1983).

Kirshman dan Pomeroy (1949) in Klein (1971) mengatakan bahwa minyak sebagai komponen cair yang relative non-volatil. Minyak dapat diperoleh dari bahan yang mengandung minyak dengan cara pengepresan, dengan cara ekstraksi mengunakan berbagai zat pelarut yang mudah menguap (Ketaren, 1986).

Johnson dan Davenport (1971) mendefinisikan lemak sebagai suatu kelompok bahan yang secara umum larut dalam ether, chloroform atau pelarut yang lainnya. Minyak dan lemak mempunyai sifat tidak larut dalam air, hidrophobik dan terdapat pada tumbuhan hewan darat dan laut dan biasa disebut trigliserides (Marley, 1968 in Sonntag, 1979).

Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat diketahui bahwa setiap pelarut mempunyai daya melarutkan yang berbeda-beda terhadap lemak-lemak yang diuji. Pelarut yang paling sulit melarutkan lemak adalah asam asetat, aquadest, dan NaOH, sedangkan pelarut yang paling banyak dan paling mudah melarutkan lemak adalah hexan. Pada uji kualitatif juga terlihat bahwa lemak susu yang berasal dari hewan tidak mudah larut dalam air, sedangkan lemak susu yang berasal dari tumbuhan (kedelai) dapat larut dalam air. Hal tersebut menunjukkan bahwa lemak atau minyak tidak mudah untuk dilarutkan sehingga di dalam tubuh pun digunakan zat  khusus untuk melarutkan lemak yang  akan digunakan sebagai energi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

            Berdasarkan  hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pelarut yang paling baik atau dapat melarutkan lemak dengan baik adalah Hexan. Cara kerja spektrofotometer adalah mengukur konsentrasi suatu zat pada larutan dengan sistem pembacaan absorbansi larutan terhadap cahaya. Spektrofotometer dapat digunakan untuk menentukan kadar protein dalam susu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Admin. 2011. Minyak kelapa dari dapur menuju industry. [terhubung berkala]http://www.komplemen.com/minyak-kelapa-dari-dapur-menuju-industri-123.html  (6 Mei 2012).

Al Arif. 2011. Manfaat Minyak Kelapa Murni (VCO, Virgin Coconut Oil). [terhubung berkala] . http://www.minyak-kelapa.com/artikel/pengertian.php (6 Mei 2012).

Buckle, 1987. Ilmu Pangan. UI Press, Jakarta

Despal et al. 2007. Pengantar Ilmu Nutrisi, Modul Kuliah NTP-231. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan-Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hardja, B. S. 2001. Studi pembuatan mentega coklat tiruan dan minyak sawit dengan proses interestifikasi enzimatik. Laporan Penelitian, Hibah Bersaing. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hart, Harold. 1983. Organic Chemistry, a Short Course, Sixth Edition, Michigan State University, Houghton Mifflin Co.

Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. 1st Edition. Universitas Indonesia. Jakarta.

Muchtadi, T. 1996. Peranan teknologi pangan dalam peningkatan nilai tambah produk minyak sawit Indonesia. Orasi Ilmiah. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pasaribu, Nurhida. 2004. Minyak Buah Kelapa Sawit. Makalah. Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.

Setiawan, Danang. M. Sidik, Farihah Isnayanti, M. Risal Al amin, Afif Ependi. 2008. Indusrti kecil sabun cair. Jurusan D III Teknik Kimia, Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya.

Tedy. 2011. Industri minyak jagung. [terhubung berkala] .  http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses/pembuatan-biodiesel-dengan-katalis-biologis/ (6 Mei 2012).